Pages

Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Saturday, October 29, 2011

Soempah Pemoeda





Hari ini hari sumpah pemuda loh... kawan-kawan pada masih ingat nggak apa isinya... kalau agak lupa ini saya ingetin kembali....




SOEMPAH PEMOEDA

Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA






....In English.....

Youth Pledge

Firstly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one motherland, Indonesia.

Secondly
We the sons and daughters of Indonesia, acknowledge one nation, the nation of Indonesia.

Thirdly
We the sons and daughters of Indonesia, respect the language of unity, Indonesian.


....Edisi EYD....



Pertama:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kedua:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Ketiga:
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia




28 Oktober 1928-28 Oktober 2011


Atas nama bangsa Indonesia 
-cq. Budi Hamuddin

Monday, April 25, 2011

Gaya pengasuhan anak ala Amerika vs China

Mungkin tulisan kali ini saya mulai dengan sedikit "curhat", .... Ntah kenapa... dalam beberapa hari belakangan ini, saya  kefikiran terus tentang yang namanya“pola asuh anak” Mungkin ini mungkin yah, karena basic saya sebagai lulusan fakultas pendidikan atau bahasa gaulnya  fakultas umar bakri .... atau mungkin karena mengingat umur maka otak dikepala ini sudah saya sudah mulai  mencari program software baru untuk diinstal yang namanya  "being a good dad.ver.01".. hahaha.....


Yaiyalah belajar "parenting" kan nggak harus menunggu dulu lepasnya status "single"   menjadi "married" baru boleh belajar....iya nggak? 

Anyway,... sebenarnya kefikiran tentang "pola asuh anak" ini karena terpicu kejadian beberapa hari belakangan ini. Ceritanya begini, dalam semingguan belakangan ini saya kedatangan beberapa tamu dari Indonesia, juga mengunjungi beberapa  kawan serta beberapa kali secara tidak sengaja ketemu dengan beberapa kawan  lama.  Ada persamaan diantara mereka semua yakni, mereka sama-sama sudah "married" dan memiliki "anak". 

Tak terasa waktu berjalan, dulu rata-rata kawan-kawan itu boleh dikatakan sebaya, sepantaran dan  bahkan beberapa diantaranya merupakan kawan "seperjuangan" dengan saya. Namun sekarang pemandanganya (baca; situasi) agak sedikit berbeda. Kalau dulu kawan-kawan saya itu rata-rata "single fighter", namun sekarang, mereka sudah pada ditemani "srikandi" mereka masing-masing, plus anak-anak kecil disekeliling mereka.  

Yeah..! ternyata waktu memang berjalan sedemikian cepatnya. Kalau dulu beberapa kawan-kawan itu belum menikah, memiliki anak atau anak-anak mereka masih kecil dan baru belajar untuk duduk, kini "mereka  kompakan sudah memiliki anak bahkan anak-anak" mereka itu sekarang sudah mampu mengarungi samudera, berkeliling dari satu daerah ke daerah lainya juga dari satu negara kenegara lainya menemani kedua orang tuanya yang sedang "ber-honeymoon" yang ntah untuk keberapa kalinya. 

Anyhow, diantara renetetan kejadian-kejadian pertemuan dengan kawan-kawan tersebut, yang menarik bagi saya, serta yang membuat saya kefikiran adalah adalah anak-anak mereka serta pola asuh yang diterapkan kawan-kawan saya tersebut dalam membesarkan anak-anaknya selama ini. Dan seperti yang saya sebutkan diatas mungkin karena nature saya sebagai lulusan fakultas pendidikan, selalu mempengaruhi dan memantik rasa ingin tahu saya ketika hal-hal tersebut bersinggungan dengan yang namanya "teaching" dan "nurturing". 

Sekedar info,  ketika kuliah dulu di Makassar dan juga sekarang di Kuala Lumpur ini,  saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan ini. Dan kalau boleh sedikit sombong (yang sayangnya dilarang agama..hehehe) untuk matakuliah yang berhubungan dengan ini seperti, Psikology Pendidikan atau belajar dan pembelajaran nilai saya selalu membanggakan, dan bahkan jadi kesayangan dosen pemangku matakuliah itu ...wkwkwk,.. yeah mungkin karena suka kali yah waktu itu,... makax usahanya dilebihin..


Lagian, saya juga termasuk tipe orang yang suka dengan anak kecil, sedikit info tentang saya, selama ini hampir tidak satupun anak kecil yang menolak untuk saya gendong atau saya ajak main..heheehe apalagi disogok pakai coklat dulu... pasti jadi rebutan.hehe... nih salah satunya..



Dalam kacamata saya (saya pria berkacamata loh) dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan warna-warni, dunia yang ceria serta penuh dengan bumbu  canda dan tawa. Namun tidak semua anak-anak bisa merasakanya karena tidak semua orang tua bisa menyajikan itu semua kepada anak-anak yang diamanahkan kepada mereka, dengan berbagai macam alasan maupun keterbatasan.

Dunia anak-anak adalah  dunia yang seharusnya penuh dengan kedamaian, ketentraman sehingga anak bisa tumbuh dengan selayaknya, berkembang mengikuti jalanya usia, bergerak mengimbangi perkembangan lingkungan, tuntutan serta peran dalam keluarga. namun sekali lagi tidak semua orang tua mampu menyediakan itu semua.  karena itu semua mesti ditunjang oleh berbagai faktor seperti;  ekonomi  dan pola asuh anak, sebenarnya masih ada hal-hal lain yang berkaitan erat dengan ini semua, namun saya mungkin cuman kan menyentuh dua faktor tersebut dan lebih spesifik lagi di point pola asuh anak.


Namun sekali lagi saya menegaskan tulisan ini bukan mencoba ngejudge atau memperbanding-bandingkan kapabilitas beberapa kawan-kawan saya itu dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. Saya hanya pengamat kasta sudra tentang "pola asuh anak", penikmat artikel-artikel parenting  yang kebetuan juga senang dengan dunia anak-anak.

Setahu saya yang masih awam ini jika kita berbricara tentang pola asuh anak secara umum ada dua kutub pola asuh yang selama ini menjadi patokan dalam mengasuh anak-anak. Yakni yang berkutub kepada pola pendidikan (timur) yang diwakili China dan barat yang terwakilkan oleh pola pendidikan Amerika. 

Otoriter, disiplin dan kerja keras, demi menggapai sukses di manapun berada adalah ciri orang tua China dalam mendidik anaknya sementara pola asuh gaya orang tua Amerika lebih cenderung permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. 
Orang tua di Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. Anak-anak Cina juga dibiasakan untuk tidak tergantung pada orang lain dan serta selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri berdasarkan falsafah hidup untuk tidak mempermalukan keluarga.

Bagi yang pernah membaca buku dengan judul “Battle Hymn of the Tiger Mother?” karya Amy Chua. pasti punya gambaran mengenai  cara si penulis buku tersebut dalam mengasuh 2 anaknya menggunakan pola pendidikan tradisional Cina.Buku best seller tentang sebuah pola asuh yang menerapkan pola tradisional China dalam keluarga. Buku yang kini jadi referensi bagi penganut pola asuh dengan menggunakan gaya China tradisional. 


Berbeda lagi dengan pola asuh keluarga di Amerika yang bertumpu pada tiga sumbu yakni permisif, berorientasi kekuasaan namun menuntut kesuksesan. sikap permisif dalam merawat anak menumbuhkan penghargaan atas diri sehingga bisa membentuk rasa percaya diri anak. Anak menjadi lebih berani mencoba hal baru.  orangtua juga bisa memposisikan dirinya sebagai pihak yang berkuasa yang patut didengar ketika anak sudah melampaui batas. Bersikap menuntut serta menggantungkan harapan kepada anak untuk memenuhi keinginan orang tua. 
 

Psikolog sosial Susan Newman, PhD, penulis buku The Case For The Only Child, mengatakan setiap pola asuh yang dipengaruhi oleh budaya masing-masing bangsa punya sisi positif juga negatif. dalam pola asuh china para orang tua cenderung menggembleng anak-anak dengan keras, tujuannya agar anak berusaha sekuat tenaga mencapai hasil maksimal. Saat anak menunjukkan sikap tak menghargai orangtua, anak-anak harus bersiap menerima omelan atau kritikan tajam dari para orangtuanya.Ini adalah mentalitas masyarakat China yang diterapkan dalam pola asuh anak di manapun mereka berada. Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar. Lain halnya dengan  pola pengasuhan orang Amerika yang  pada umumnya mereka cenderung lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya. 

Nah pertanyaanya sekarang bagaimana dengan pola pengasuhan kita di Indonesia selama ini... beberpa psikolog serta pakar parenting menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara kedua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika.
Ini disebabkan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama sangat mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. Pola asuh antara orang tua yang di kota-kota besar  dan di desa-desa juga berbeda. Masyarakat desa di Indonesia menurut sebuah lembaga survey cenderung  lebih permisif. Dimana orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Sementara  di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan.


To be continued.. 


















Monday, August 31, 2009

Indonesia-Malaysia, akur2 yaa!!!




Salam damai..

Sabtu siang ketika saya mengikuti acara pemilihan ketua persatuan pelajar indonesia university Malaya, karena acara lgi di pending maka iseng2 saya mengaktifkan laptop dan membuka fesbuk, siapa tahu ada yang beri komen di status atw ada email nyasar ke inbox saya.. dari sekian banyak email yg masuk ke inbox saya, ad satu email yg sangat menarik berasal dari kawan lama yg dulu sering berjibaku di salah satu organisasi kemahasiswaan waktu dulu.. kawan itu bernama kadriyani arsyad, email yg bernada curiosity dgn sedikit bumbu emosi nampak explicit dalam email yg ia tulis kpd saya, emailx kurang lebih seperti ini;


Ass.. Alkum wr wbr!K budi, sebgai orang satu2nya yg sy kenal yg tinggal di negri J.... Mly, ingin nanya sedalam2nya bgm pandanganta' terhadp org2 atau masyrkt sana.Sy takut jng sampai kebencianku terhdp MLY saat ini hanya karena pengaruh media. Now, i hate MLY so much! Thanks before! Wassalam...
……

Saya fikir email dari kawan lama saya ini merepresentasikan fikiran dan perasaan sebagian masyarakat Indonesia terhadap M’sia. Jadi setelah berfikir sejenak ditengah riuh-ramainya kawan Indonesia di IPS (institute postgraduate studies) universiti malaya saat itu, yang sedang melaksanakan prosesi pemilihan ketua baru untuk masa jabatan 2009-2010. maka kucoba menjawab dengan jawaban retorik dan berdasarkan pengalaman saya sendiri selama kurang lebih 3.tahun disini..

......

To; kadriyani
Alhamdullilah sy baik ....waah.. wacanax booming yaa di t4 kadriyani??? sehingga harus justifying kesaya..hahaha, tpi itu pertanyaan yg sangat rasional sekali, sebagai warga negara yang memiliki solidaritas serta sifat nasionalis yang baik... my thumb rise 4 u... saya coba jawab yaa... moga2 bisa memberikan gambaran sedikit........
Media leads us to the point that they want to put us, if u strictly follow u'll be in that position. Need a second opinion when justifying something, and need a critical thinking if u wanna survive... (from; buku pengantar CDA/critical discourse analysis)

Scara pribadi saya suka belajar disini, segalanya lebih mudah, teratur jga terkonsep.. pada dasarx baik m'sia maupun d indonesia karakter orng2x g jauh berbeda, respek terhadap org yg memiliki ilmu atw orang2 yg sedang menuntut ilmu, sebaliknya terkadang underestimate terhadap org2 yg dari segi ekonomi maupun tingkt pendidikan yg jauh d bwh mreka... secara umum jika membahas konflik ataupun menilai benar-salah, lebih maju atw lebih di bidang perbidang antara m'sia maupun indonesia diperlukan kajian serius krn konflicitas maupun kompleksitas dari hubungan kedua negara bertetangga ini. 
Disatu sisi ketika sisi nasionalisme Indonesia tersentuh saat m'sia mengclaim apa yg menurut Indonesia itu milik Indonesia... baik itu lagu rasa sayange, batik, reok ponorogo dan masih banyak lagi, namun tak pernah kah kita berfikir apa yg dilakukan lebih dari 2 juta rakyat indonesia di m'sia yng cuman kurang dari setengahnya adalah pelajar serta expatriat (org2 bekerja secara profesional).. sisanya adalah TKI yang yang sebagian besar adalah PATI atw pendatang asing tanpa ijin yg dulunx di kenal disini dgn istilah pendatang haram. tentu saja jumlah tenaga kerja illegal segede itu itu juga akan memantik masalah2 sosial... 
Urusan klaim-mengklaim antara m'sia maupun indonesia, perlu di tempatkan secara proporsional.. kita sadar hubungn m'sia indonesia mengalami pasang surut, semenjak 52 tahun belakangan ini.saran sya buat kwanku yg satu ini,... ataupun kepada negeriku, adalah sbb….. namun sy akan memulai dengan kalimat umum yg sering kita dengar, indonesia malaysia adalah serumpun, or malaysia dulux belajar kepada indonesia... Indonesia memang serumpun, namun istilah serumpun nampakx lebih menguntungkan m'sia,.. kenapa ??.. apa karena skrg murid (baca; m'sia) lebih pintar dari guru (baca; indonesia), sehingga sering ngibulin sang guru, atw karena si murid rajin belajar, tekun bin ligat namun disisi lain sang guru nggak ngupdate ilmux sehingga si murid semakin lihai mempermainkan sang guru..hahaha...solusinya menurut kawan2 hasil diskusi warung kopi versi m’siswa kurang kerjaan disini; ketika malaysia pintar bermanuver indonesia harusx lebih pintar lagi, ktika m'sia berfikir kreatif maka indonesia harus lebih berfikir dan berkreasi lebih kreatif lagi,.. jangan cuman bisa mengedepankan "esmosi"..

eniwei..karena kadriyani sama sperti sy, sama2 lulusan fakultas keguruan, .. mari kita bikin suatu wacana; profil guru yang cuman bisa marah2 kan biasax dirumahx lagi banyak masalah intern atw guru yg applicable ilmux atau level keilmuanx di dlm klas tersaingi atw bahkan terlewati sehingga harus ditutupin dgn kmarahan (moro2) kpd si murid oleh figur sang guru tersebut..haha..benar nggak?

bocoran yaaa... disini karena pers di kontrol oleh negara maka masyarakat g disibukkan dan dihabiskan waktunya dengan masalah2 seperti ini,.. mereka lebih diarahkan untuk mengurusi masalah2 prinsipel sperti, pendidikan, ekonomi ... atw mencari solusi dengan melakukan penelitian (applied research) terhadap masalah masakini yg dihadapi oleh m'sia.. dan beruntungx saat ini saya bisa menikmati pendidikan di salah satu universitas, yg menjadi pilar applied research baik di tingkat ..bla.bla.bla (di sensor karena lebih mengarah kepada memuji diri sendiri dan malaysia..hahaha)
So its up to us, we still wanna angry with them, or study or updating our knowledge and be smarter than before (baca; malaysia)…
cheers,
budianto.h
Kawan lama yng slalu berdoa semoga cepat bisa selesai study so bisa cepat pulang bwt ngebangun bangsa negara juga segera pulang untuk merried.... n org yg juga slalu berdoa agar indonesia dan m’sia jgn mau di adu domba oleh media or pihak ke3 …. wish me luck dear
…

Itulah jawaban yg kukirimkan kpd kawan lamaku itu, kawan yg dulu sangat solider kpd sy soalx sama2 se jurusan, kawan yg lebih beruntung, kenapa saya katakan bgitu, setelah dipertemukan oleh media fesbuk setelah bertahun2 tak ketemu tanpa ad kabar berita.. tanpa nyana dia telah terlebih dahulu kawin n sdh punya anak..nah saya… calon istri aja nggak ada…hahahaha

kembali ke persoalan hubungan bilateral antara M’sia dan Indonesia, kedua negara memang mengalami pasang-surut sejak m’sia mendapatkan kemerdekaanx pada 52 tahun lalu yang jatuh tepat pada hari ini 31 agustus.

Tanpa kita pungkiri M’sia dan Indonesia memang serumpun, sama2 memerlukan dan sama2 tak terpisahkan baik dari sejarah maupun ethno-geographis… namun hubungan Indonesia-M’sia tak selalu mulus dalam rentang waktu 52 tahun ini. Kenapa ini bisa terjadi….??? apakah indonesia yang kurang bisa bersikap atau malaysia sudah mulai arogan atau Apakah ada yg mencoba mengail di air keruh???.. perlu kajian lebih mendalam dilaksanakan mengenai hal ini, sama seperti yg sarankan kpd kawanku si penulis email diatas,..

2 tahun yg lepas ketika kami masih dalam kepengurusan PPIUM (persatuan pelajar Indonesia-Univ.Malaya), kami diminta membantu 1st international conference hubungan Indonesia-malaysia, yg di gagas oleh dua negara untuk meperbicangkan permasalahan hubungan kedua2 negara dalam tataran akademis,. Lalu di lanjutkan di tataran pengambil keputusan dengan dibentuknya Eminent Persons Group (EPG) kedua negara yang berlangsung di Jakarta. EPG Indonesia diketuai mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, pihak Malaysia ketuanya Datuk Tun Musa Hitam. Tujuan EPG mempererat kembali tali persaudaraan kedua bangsa melalui lajur berbagai profesi.

Eniwei…Hubungan Indonesia-Malaysia tegang menurut saya pribadi hanya karena satu alasan, yakni kehadiran sekitar dua juta TKI di negeri jiran M’sia. Selama problem klasik ini tak diselesaikan secara serius, ketegangan ala konfrontasi itu menjadi bahaya laten yang mudah termanifestasi menjadi konflik serius.

Namun dengan atau tanpa konfrontasi, pendapat pribadi saya, Malaysia menganggap kedua negara bagai dua saudara yang kadang kala bertengkar. Kakak berharap adiknya bersikap hormat, sebaliknya adik merasa kakak cepat naik pitam. Jika disimpulkan, separuh kalangan di Malaysia mungkin merasa Indonesia sebagai kiblat historis dan kultural yang layak dicontoh, separuhnya lagi tak begitu peduli dengan ketegangan-ketegangan yang terjadi.

Sebaliknya, tak sedikit kalangan di Indonesia yang mudah terprovokasi dengan isu-isu bilateral yang membuat kondisi bagaikan api di dalam sekam, seperti kasus Ambalat, batik, dan lagu Rasa Sayangé. Dan, lain2 salah satu kalangan yang menyulutkan api ke bensin adalah justru pers Indonesia. Sebagai contoh sebuah hasil penelitian kawan seorang peneliti media yang baru saja sy baca, Dalam kurun waktu Mei-Oktober 2007 terdapat hampir 5.000 berita media cetak tentang ketegangan bilateral kedua negara. Hanya lima persen yang bernada positif, selebihnya menjelek-jelekkan Malaysia.

Di lain pihak media Malaysia justru cenderung menyembunyikan berita-berita yang menyulut emosi. Sebagai negeri yang pernah diserbu pasukan Indonesia, mereka paham pemberitaan yang memanas-manasi sama sekali tidak menguntungkan.

Indonesia dan M’sia memang memiliki kultur konfrontasi, Grafik hubungan RI-Malaysia naik turun sejak konfrontasi awal 1960-an. Kedua bangsa memang serumpun, tetapi sejarah dan sistem politiknya bagai siang dan malam. Malaysia dijajah Inggris yang sistem kolonialismenya ”bagus” dibandingkan Belanda yang ”kejam”. RI berjuang untuk merdeka, tanggal kemerdekaan Malaysia mesti dapat persetujuan dari Inggris dulu.Malaysia sebuah monarki konstitusional, Yang Dipertuan Agung menjadi simbol dan pemerintah dipimpin perdana menteri. Indonesia sebuah republik yang merebut kemerdekaan melalui perjuangan dan diplomasi. Konstitusi Malaysia menyebut Islam sebagai agama resmi, tetapi judi diizinkan di Genting Highland meskipun hanya untuk warga Malaysia non-Islam dan warga asing. Sementara UUD 1945 secara implisit menyebut Indonesia sebagai negara sekuler.

Kondisi obyektif memang memperlihatkan Malaysia saat ini lebih maju dari indonesia, baik dari segi ekonomi, pendidikan maupun infrastruktur, beberapa langkah didepan. namun haruskah itu membuat atau memantik sifat cemburu atau arogan, dari dua negara yang bagaikan kakak-adik (versi m'sia; adik-beradik) ini.

Tidakkah, seharusnya aroma atw atmosphere konfrontasi klassik kedua negara diubah menjadi energi positif menjadi suatu kompetisi sehat dan fair dimana 2 dua negara bisa saling adopsi apa yang menjadi kelebihan masing2 tentu saja dengan mengedepankan etika serumpun dan semangat saling support antara adik-kakak, mungkin sebagai contoh malaysia bisa mengadopsi seni budaya indonesia seperti lagu2 yg sering di katakan menjajah blantika musik malaysia (sebenarnya banyak contoh, tapi contoh ini diambil karena pada saat tulisan ini di buat, penulis lagi duduk dgn kawan baru anak malaysia, yang sudah seharian mendengarkan penulis menyetel lagu2 indonesia dan ketika saya mangatakan saya punya banyak koleksi top hits lagu2 indonesia, apakah cik mau mengcopy..??, dan dengan mata yg sangat berbinar ia menjawab naaakkkk!! Yang artinya mauuu sekali..haha)

Dan disisi lain Indonesia bisa mencontoh malaysia dari segi infrastruktur pendidikan;..saya masih ingat 2,5 tahun yang lalu ketika penulis masih menjadi bagian dari tim sepakbola pelajar indonesia univ.malaya yang mengikuti pertandingan dalam rangka mengkuti peringatan kemerdekaan RI di univ.kebangsaan malaysia di bangi, disela-sela acara istirahat, para kawan2 indonesia dari berbagai kampus di m’sia saling memuji infrastruktur yg dimiliki kampus masing2, sampai akhirnya salah seorang kawan dari UKM nyeletuk, apa jadinya yaa jika infrastruktur sperti itu ada di kampus2 indonesia, orang2 kita pasti akan merajai dunia.. tanpa infrastruktur yg memadai aja kita bisa bersaing, apalagi klw infrastrukturnya bagus...juara terusss pastinya!!! Hhahahaha


Eniwei... selamat Ultah Malaysia ..akur2 yaa dengan indonesia
Budianto Hamuddin
Fakulti Bahasa dan linguistics
UM.KL

NB;
Tulisan ini di buat di dataran sastra dikarenakan perpustakaan utama universiti Malaya tutup, karena menyambut ULTAH M’sia yg ke 52 yang bertepatan hari ini 31 agustus 2009.
And buat bung Rahmat Hidayat, selamat yaa karena sudah terpilih untuk mengemban amanah PPIUM untuk periode 2009-2010… harus lebih maju yaa lagi dari kepengurusan kemaren!!







Tuesday, November 25, 2008

Si Manja Yang Stubborn ...


Setiap anak mempunyai tempat yang unik dalam keluarga", demikian kalimat pembukaan Irene Schumo Seipt pada Bab-nya ‘Your Child’s Place in the Family’. Memang benarlah hal di atas karena setiap anak menduduki posisi yang khusus. Baik sulung, maupun tengah, Tak terkecuali si bungsu yang akan menjadi topik tulisan kali ini.

Dalam pandangan masyarakat posisi anak bungsu selalu mendapatkan gambaran yang unik baik itu yang positif seperti kreatif, pintar, ramah dan sangat menyenangkan maupun yang negatif seperti; inferior, keras kepala dan bandel.de.el.el... Namun yang paling sering disematkan ketika kita ditengah masyrakat awam begitu mendengar status anak bungsu adalah imej “manja”.. mengapa demikian ??

Anak bungsu umumnya lahir di luar perencanaan, tetapi kerap dimanja oleh orangtuanya karena merupakan anak terkecil dan penghabisan. Ia juga tempat limpahan kasih sayang kakak-kakaknya, karena posisinya yang paling buncit. Si bungsu dikenal sebagai pusat perhatian keluarga, baik dari orangtua maupun kakaknya. Apalagi bila usia dengan sang kakak terpaut jauh, maka ia akan menjadi obyek kesenangan anggota keluarganya. Seringkali, kakak-kakaknya dirasakan sebagai 'orangtua kedua' bagi si bungsu, terutama bila usianya terpaut jauh.

Akibat terus menerus mendapat perhatian dari orangtua dan kakak-kakaknya yang lebih dewasa, anak bungsu sering bersifat yang cenderung negatif ungkap beberapa psikolog kawakan seperti kekanak-kanakkan, cepat putus asa, dan mudah emosi. Namun disisilain pola tersebut bisa juga menyebabkan si anak bungsu memiliki karakteristik positif seperti: lebih terbuka, ramah, menyenangkan dan lebih bebas dalam berekspresi.

Persaingan dalam keluarga

Karena si bungsu biasanya lahir pada saat keluarga sudah dalam kondisi mapan, keluarga sudah dipenuhi oleh anak yang jumlahnya tidak satu, dengan usia lebih tua pula. maka orangtua cenderung tidak menuntut banyak pada si bungsu bila dibandingkan si sulung yang harus jadi “contoh” atau “komandan” yang baik.

Persaingan antara kakak dan si bungsu juga tidak sebesar antara anak pertama dan anak tengah. Sebab anak bungsu lebih sering dicap sebagai anak manja, serta kesayangan oleh seluruh keluarganya. Namun situasi dalam keluarga kembali lagi menjadi faktor penting apakah sibungsu menjadi rendah diri dibanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya, atau tinggi karena ego si bungsu. Alfred Andler dalam berbagai tulisanya menempatkan bungsu dan sulung sebagi pemilik ego yang paling besar dalam posisi anak dalam keluarga, walaupun menurut Adler, anak bungsu lebih santai dan lebih bebas membentuk kepribadiannya, dan tidak dituntut menjadi high achiever.

Dalam dalilnya yang lain seperti dikutip dari sebuah situs psikologi, disebutkan bahwa dalam pandangan Adler pada dasarnya semua anak berusaha menjadi superior dan berjuang demi mendapat perhatian,serta kasih sayang orangtua atau orang-orang dekat disekelilingnya. Mereka umumnya berkompetisi untuk menarik perhatian. Kondisi ini membentuk kepribadian mereka berbeda dan mencerminkan usaha mencari perhatian, tak terkecuali si bungsu yang manja.


Si Bungsu Dan kematangan emosional.


Proses pertumbuhan dan perkembangan emosional sibungsu berjalan dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor genetic maupun treatment dari kedua orang tuanya sudah jelas akan memberi kontribusi yang besar dalam hal ini. Selain itu ada pula faktor pendidikan, riwayat kesehatan ataupun trauma yang pernah dialami oleh anak. Demikian pula faktor lain yang sifatnya tidak langsung, misalnya status ekonomi orang tua, yang berpengaruh pada kecukupan gizi dan kesejahteraan anak. Bahkan pada masyarakat yang masih memiliki akar budaya yang kuat, perkembangan karakter emosi anak juga akan terpengaruh oleh norma-norma budaya tersebut

Kematangan emosional disini merupakan kondisi dalam mencapai tingkat kedewasaan, khususnya bila dipandang dari sudut perkembangan emosional individu. Menjadi dewasa adalah proses yang cukup panjang.

Walaupun kematangan emosional sangat dipengaruhi banyak faktor namun dari berbagai analisa dan hasil temuan para psikolog bahwa sebagian besar anak bungsu cenderung tidak setangguh yang ia coba tampakkan atau yang terlihat.

Si Bungsu Yang Sukses

Apakah urutan kelahiran anak berperan dalam mencapai sukses. Birth Order atau Konsep Urutan Kelahiran walau masih controversial, beberapa penelitian membuktikan kesuksesan seseorang ditentukan, salah satunya, oleh urutan kelahirannya. Ya anda boleh menyalahkan kelas sosial, pendidikan, atau keberuntungan seseorang. Tapi yang pasti, perbedaan kesuksean antara satu orang dengan orang yang lain dimulai dari rumah.

Dengan kata lain, posisi anak di dalam keluarga berdampak pada kepribadian, perilaku, cara belajar, dan akhirnya pada kemampuannya dalam mencari nafkah. Para ahli percaya, urut-urutan kelahiran anak memengaruhi kesuksesan seseorang.

Dalam kehidupan keluarga anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Karena mereka sering dianggap sebagai anak bawang, si Bungsu cenderung untuk selalu ingin memperoleh perlakuan yang sama.

Si Bungsu dan Kehidupan Cinta

Adler menjelaskan, setiap anak lahir dalam tahapan berbeda. Begitu pula si bungsu dimana ia cenderung menjadi pribadi yang ramah dan sangat menyenangkan. Anak bungsu biasanya sangat menawan

Tetapi di balik sifatnya yang menyenangkan, kata para ahli jangan sekali-sekali anda mencoba untuk mendominasi anak bungsu. Karena mereka memiliki kecenderungan kuat untuk menentang atau paling tidak mempertanyakan otoritas. Mereka lebih suka dianggap sederajat dengan pasangannya daripada dipandang sebagai menurut kepada pasangannya.

Percaya atau tidak, urutan kelahiran mempengaruhi cinta. beberapa penelitian membuktikan karakteristik kepribadian seseorang ditentukan, salah satunya, oleh urutan kelahirannya. Artinya walau berasal dari keluarga yang sama, anak sulung, tengah atau bungsu bisa memiliki perbedaan sifat, termasuk dalam tingkah laku mencintai seseorang

Anak-anak yang lahir paling buntut biasanya memiliki pembawaan menyenangkan pandai bergaul, popular dan mudah membuat orang jatuh hati, sehingga dalam kehidupan keseharian biasanya di kelilingi orang-orang yang mencintainya.

Namun dalam kehidupan asmara di berbagai literatur ditemukan kesamaan pandangan bahwa anak bungsu sebaiknya tidak mencari pasangan hidup dengan sesama bungsu karena berbagai pertimbangan psikologi namun lebih diarahkan untuk mencari pasangan berbeda urutan yakni dengan anak sulung atau dengan anak tengah dengan alasan bisa saling menutupi.

Ditambahkan pula seorang pengasuh rubrik keluarga di sebuah media terkenal bahwa kombinasi

Sulung + Bungsu, merupakan duet yang pas. Perpaduan antara si komandan yg serius dan si bungsu yang ceria Hanya saja terkadang si bungsu seringkali terlalu minta perhatian. mesti pinter-pinter si sulung menjaga perasaannya. Tapi pada dasarnya kedua pasangan bisa kompak.

Tengah + Bungsu. Kemungkinan sukses kombinasi ini sangat besar, karena merupakan campuran dari si negosiator dan si makhluk sosial. Entah bagaimana rumusnya, tetapi jika mereka disatukan akan terjadi komunikasi yang sangat lancar, dimana sudah menjadi rahasia umum bahwa “komunikasi” merupakan salah satu kunci mempertahankan keharmonisan suatu hubungan.

Walaupun formula dan kombinasi diatas sudah banyak dibuktikan didalam masyarakat dan berbagai statistik penelitian juga memperlihatkannya, namun disebalik itu semua keberhasilan dan kegagalan dalam menjalin serta mempertahankan hubungan asmara tak terlepas dari banyak sebab dan sifat masing-masing individu.

Penutup

Dalam masyarakat pendapat-pendapat umum bahwa anak bungsu ini adalah anak yang manja oleh karena menjadi pusat perhatian keluarga adalah suatu hal yang sudah biasa mungkin kita dengar. Mungkin disekeliling anda sadar ataupun tidak, anda sering berinteraksi dengan anak yang berstatus bungsu dalam urutan keluarga, begitupula dengan saya.

Saya merasa “dikelilingi” oleh kawan-kawan yang berstatus bungsu dalam keluarga mereka. Anak bungsu tersebut muncul dalam berbagai adegan kehidupan keseharian saya. Dimana pola dan tingkah mereka memiliki keunikan tersendiri sehinggga membuat saya tertarik mengadakan sedikit study mengenai mereka dengan maksud untuk mencoba lebih memahami dan lebih dekat dengan mereka.

Dari beberapa kawan yang saya coba observasi dalam rangka penulisan ini, saya menemukan benang merah dalam karakteristik, bahwa pada umumnya anak bungsu memiliki tekad yang besar dan kemauan yang keras yang cenderung kearah “ke-keras kepala-an” dalam keseharian mereka, maka jadilah tulisan singkat ini dengan judul “simanja yang stubborn” tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kawan-kawanku yang berstatus bungsu.

Si anak bungsu dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, Namun satu hal yang pasti berkawan dengan anak bungsu tidak akan pernah ngebosenin dengan segala pola dan tingkahnya yang unik.
....I like being your friend...!!!


...Taken from many sources
ditulis dalam rangka "Viva day"

Tuesday, October 28, 2008

Karakter Berdasarkan Urutan Kelahiran


Teory urutan kelahiran membahas generalisasi personaliti yang disebabkan oleh perbedaan urutan kelahiran anak. Biasanya pembahasan ditekankan dengan basis 3 bersaudara : Sulung, Tengah dan bungsu. Alfred Adler, seperti para ahli psychoanalytic lainya merumuskan teori ini berbasiskan riset dan pengalamanya dengan pasien-pasien neurotic yang ditanganinya. Jadi seperti apakah pandangan psychoanalitic pada urutan kelahiran...
Adler merumuskan atau lebih tepatnya menyimpulkan berbagai karakter berdasarkan urutan kelahiran si anak yakni:
.......

a. ONLY
Family Situation;Birth is a miracle. Parents have no previous experience. Retains 200% attention from both parents. May become rival of one parent. Can be over-protected and spoiled.
Child's Characteristics;Likes being the center of adult attention. Often has difficulty sharing with siblings and peers. Prefers adult company and uses adult language.

b. OLDEST
Family Situation;Dethroned by next child. Has to learn to share. Parent expectations are usually very high. Often given responsibility and expected to set an example.
Child's Characteristics;May become authoritarian or strict. Feels power is his right. Can become helpful if encouraged. May turn to father after birth of next child.

c. SECOND
Family Situation;He has a pacemaker. There is always someone ahead.
Child's Characteristics;Is more competitive, wants to overtake older child. May become a rebel or try to outdo everyone. Competition can deteriorate into rivalry.

d. MIDDLE
Family Situation;Is "sandwiched" in. May feel squeezed out of a position of privilege and significance.
Child's Characteristics;May be even-tempered, "take it or leave it" attitude. May have trouble finding a place or become a fighter of injustice.

e. YOUNGEST
Family Situation;Has many mothers and fathers. Older children try to educate him. Never dethroned.
Child's Characteristics;Wants to be bigger than the others. May have huge plans that never work out. Can stay the "baby." Frequently spoiled.

f. TWIN
Family Situation;One is usually stronger or more active. Parents may see one as the older.
Child's Characteristics;Can have identity problems. Stronger one may become the leader.

g. "GHOST CHILD"
Family Situation;Child born after the death of the first child may have a "ghost" in front of him. Mother may becime over-protective.
Child's Characteristics;Child may exploit mother's over-concern for his well-being, or he may rebel, and protest the feeling of being compared to an idealized memory.

h. ADOPTED CHILD
Family Situation;Parents may be so thankful to have a child that they spoil him. They may try to compensate for the loss of his biological parents.
Child's Characteristics;Child may become very spoiled and demanding. Eventually, he may resent or idealize the biological parents.

i. ONLY BOY AMONG GIRLS
Family Situation;Usually with women all the time, if father is away.
Child's Characteristics;May try to prove he is the man in the family, or become effeminate.

j. ONLY GIRL AMONG BOYS
Family Situation;Older brothers may act as her protectors.
Child's Characteristics;Can become very feminine, or a tomboy and outdo the brothers. May try to please the father.

k. ALL BOYS
Family Situation;If mother wanted a girl, can be dressed as a girl.
Child's Characteristics;Child may capitalize on assigned role or protest it vigorously.

l. ALL GIRLS
Family Situation;May be dressed as a boy.
Child's Characteristics;Child may capitalize on assigned role or protest it vigorously.
.........
Hanya sebatas teori, tapi dari analisa diatas, kita setidaknya bisa mengetahui gagasan utama teori Alfred Adler, psikolog asal Austria yang meneliti tentang karakter anak berdasarkan urutan kelahiran di dalam keluarga. Jadi, anak sulung, anak bungsu, anak tunggal, anak kembar, dan yang lainya masing-masing memiliki kecenderungan karakter yang berbeda-beda kalau menurut teori Alfred Adler.

Walaupun penelitian-penelitian yang lebih baru menyimpulkan bahwa faktor urutan kelahiran kenyataannya hanya berpengaruh kecil, tetap menarik bagi guru, orang tua maupun calon orang tua untuk mengetahui hal seperti ini. Di antara hal-hal yang disebutkan sebagai faktor penting pembentuk karakter anak adalah pendidikan, pola asuh orang tua dan posisi ekonomi maupun sosial sebuah keluarga.

BAGAIMANAKAH pandangan agama Islam terhadap persoalan ini?
Dr. K.H. Miftah Faridl berpendapat, secara psikis tentunya ada perbedaan karakter antara masing-masing anak. Akan tetapi, secara agama Islam, mereka itu berbeda hanya pada taraf ketakwaannya ke hadirat Allah SWT. Artinya, orang tua perlu mendorong masing-masing anaknya agar selalu bertakwa kepada-Nya.

"Kalaupun kita mesti mentoleransi perbedaan penyikapan, yang perlu dibedakan adalah perbedaan dorongan motivasi dan mungkin juga sarana bagi anak-anak dalam rangka menjadi orang yang bertakwa ke hadirat Ilaahi Rabbi,".

Selain itu, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 14 dan An Nahl ayat 72, sesungguhnya manusia memang diberi kecenderungan mencintai anak-anak dan hal itu merupakan hadiah, rezeki, atau perhiasan dari Allah SWT. "Sesungguhnya anak-anakmu adalah hadiah bagi kamu." (H.R. Ibn Majah)

Apa sikap orang tua terhadap anak-anak? Apakah orang tua harus adil terhadap semua anak?
Diriwayatkan dari para penyusun kitab Sunan, Imam Ahmad, dan Ibn Hibban dari Al Nu'man bin Basyir, bahwa Rasulullaah bersabda," Bersikaplah adil terhadap anak-anakmu, bersikaplah adil terhadap anak-anakmu."

Sementara itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik, Rasulullaah bersabda, "Barangsiapa yang memelihara dua anak perempuan sampai mereka menginjak dewasa, maka pada hari kiamat nanti aku dan dia seperti ini, sambil mengacungkan kedua jarinya."

Dalam hadis yang diriwayatkan Al Baihaqi, Rasulullaah bersabda, "Hak anak atas orang tuanya adalah mendapat pengajaran Al Kitab (Alquran), cara berenang, dan tidak diberi rezeki kecuali yang baik."

Yang sering jadi persoalan dan cenderung kurang diperhatikan oleh para orangtua adalah lemahnya keinginan orangtua untuk memenuhi hak-hak anak, baik itu sulung, tengah maupun bungsu sesuai dengan tuntunan dalam syariat Islam. Acapkali di tengah masyarakat, yang diwarnai fenomena orangtua karir, anak sulung, tengah maupun bungsu merupakan hasil ”dididikan” pembantu rumahtangga yang minim pengetahuannya. Akibatnya, anak sulung, tengah maupun bungsu merupakan ”produk” hasil bentukan pembantu rumahtangga, yang mana anak-anak tersebut tumbuh dan berkembang namun kurang selaras dengan konsep pendidikan yang diharapkan orangtuanya.

Anak Anda Adalah Anugrah Anda, Dan Anda Adalah Anugrah Didalam Keluarga Anda.
Semoga Anda mengetahui posisi Anda.......


Ref: Taken from Many Sources



Wednesday, April 9, 2008

Don't Stop Study


Kita dilahirkan ke dunia telanjang bulat, tanpa membawa apa-apa. Pertama kali kita hadir di dunia ini, kita hanya bisa menangis, dan disambut dengan senyum dan tawa bahagia orang tua dan keluarga yang menanti kehadiran kita. Kalau kita lahir langsung tertawa, mungkin ibu kita orang pertama yang akan jatuh pingsan. Hari demi hari berlalu, kita mulai bisa tengkurap, merangkak, berdiri, dan melalui perjuangan yang penuh dengan jatuh bangun, akhirnya kita bisa berjalan.

Pada awalnya kita tidak bisa apa-apa, namun karena kita belajar berjalan, kita menjadi bisa berjalan. Awalnya kita tidak bisa bicara, bisanya menangis jika kita lapar dan menginginkan sesuatu lainnya; dengan belajar bicara, kita sekarang jadi pandai bicara, bahkan banyak yang bicaranya ngacau… Awalnya kita tidak bisa baca tulis, lalu kita pergi ke sekolah dan belajar baca tulis, sekarang kita sudah pandai baca tulis. Jadi, pada mulanya kita tidak bisa, tapi dengan belajar sekarang kita menjadi bisa. Kata kuncinya adalah belajar.

Selanjutnya, setelah kita dewasa, kita pun berjuang pantang menyerah untuk meraih cita-cita kita. Ada yang berhasil meraih cita-cita yang diimpikannya dan ada juga yang tidak atau belum berhasil. Yang telah berhasil mewujudkan cita-cita atau impiannya biasanya disebut orang sukses. Paling tidak sukses menurut definisinya sendiri. Apalagi kalau hartanya melimpah ruah, pasti orang-orang di sekelilingnya menyebut dia itu “orang sukses”. Ya memang benar sih, paling tidak dia memang telah sukses secara materi walau makna kesuksesan yang sejati tidak melulu menyangkut materi. Kabar buruknya adalah hanya sedikit orang yang menikmati karunia sukses itu, atau dengan kata lain sebagian besar populasi kita masih belum berhasil (kalau enggan disebut gagal) meraih apa yang diimpikannya atau sebut saja dengan kata “sukses”.

Lalu sekarang, ramai-ramai orang berpacu mengejar sukses. Walau mungkin ada di antara yang ikut pacuan itu belum mengerti apa yang ia kejar dan bertanya pada peserta lainnya, “Maaf, boleh nanya. Kita kan sedang berpacu mengejar sukses. Sebenarnya sukses itu apa?”Dengan kesal peserta itu menjawab, “Kamu ini gimana, masa sukses saja nggak tahu. Lha wong saya juga nggak tahu…”

Ha..ha..ha.., ini hanya bercanda. Pesan moral dari cuplikan di atas adalah sebenarnya ada atau banyak di antara kita yang sebenarnya belum memahami makna kesuksesan yang sesungguhnya menurut definisi kita sendiri berdasarkan suara hati kita yang terdalam (inner voice). Lalu, bagaimana kita akan mengejar sesuatu yang belum jelas? Bagaimana kita akan mewujudkan mimpi kita jika mimpi itu masih kabur?

Maka sebagai langkah awal, kita harus mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya, mengetahui tujuan hidup kita yang tertinggi, dan mengetahui misi hidup kita di dunia ini.

Kemudian sekarang pertanyaannya adalah apakah kesuksesan bisa dipelajari? Jawabannya adalah ya, kesuksesan bisa dipelajari. Banyak para ahli dan peneliti yang sudah merumuskan filosofi-filosofi untuk meraih kesuksesan lewat penelitian yang panjang dari pengalaman orang-orang sukses di dunia. Banyak juga kita jumpai buku-buku motivasi dan rahasia sukses yang ditulis oleh para pakar dan para ahli di bidangnya.

Di antara folosofi kesuksesan itu antara lain menyebutkan, jika ingin sukses kita harus :

Memiliki tujuan hidup yang pasti,
Membina kepribadian yang menarik,
Membangun sikap mental positif,
Mengendalikan pikiran dan semangat,
Belajar dari kekalahan dan kegagalan,
dan masih banyak lagi.

Bayak sekali rumus dan hal positif yang mereka tuliskan untuk pencapaian sukses. Namun semua itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Terrtama kalau satu bagian dari diri kita belum terprogram untuk melakukan hal itu. Kita bisa saja melaksanakan petunjuk yang disebutkan dalam buku-buku rahasia meraih sukses tersebut tapi hal itu biasanya berjalan tidak lama dan kita kembali pada kebiasaan semula. Sekali lagi ini terjadi karena satu bagian yang amat menentukan dalam diri kita belum terprogram untuk hal itu.
Apakah bagian diri kita itu? Bagian diri kita tersebut sekaligus menjadi jawaban pertanyaan di atas tidak lain dan tidak bukan adalah pikiran kita. Lebih tepatnya pikiran bawah sadar kita. Karena pengaruh pikiran bawah sadar terhadap diri kita 9 kali lebih kuat dari pikiran sadar. Ada sebuah buku yang sangat bagus yang menjelaskan rahasia ini, judulnya Manage Your Mind For Success karya Adi W. Gunawan dan Ariesandi Setyono. Inti yang menjadi pembahasan adalah kesuksesan dan kualitas hidup kita ternyata tergantung dari kualitas berpikir kita. Dan ternyatanya lagi kualitas berpikir kita tidak mungkin positif dan bertambah baik tanpa belajar. Sebuah proses pembelajaranlah yang membuat kualitas berpikir kita semakin baik. Sebagaimana sebilah pisau yang sebenarnya tajam, bila tidak digunakan dan diasah maka lambat laun akan tumpul dan berkarat.

Tidak ada orang jenius di dunia ini yang setelah mencapai suatu sukses, kemudian berhenti belajar karena sudah merasa cukup. Mereka terus mempelajari hal-hal baru, keahlian baru, karena ilmu itu bagai samudera tak bertepi. Ada pengalaman nyata di tempat tinggal saya, seorang tokoh agama yang merasa dirinya sudah pandai dan ia sama sekali tidak mau belajar meningkatkan pengetahuan dan wawasannya lagi. Suatu hari ia membaca sebuah sticker dan langsung tersinggung, marah-marah, memaki-maki dan menjelek-jelekkan orang lain tanpa fakta yang benar, kemudian menarik diri dari pergaulan masyarakat, padahal apa yang tertulis di sticker itu benar adanya dan tidak ditujukan untuk dirinya. Hatinya ternyata sudah mengeras, orang jawa bilang “ati wangkot”. Sebabnya ya itu tadi, ia telah menganggap dirinya pandai dan tidak membutuhkan untuk belajar lagi dari universitas kehidupan padahal dunia terus berubah, masalah terus bertambah dan ilmu itu bagaikan samudera tak bertepi. Umur memang terus bertambah tapi belum tentu kearifan atau kebijaksanaannya juga.

Hadits Nabi mengatakan, “Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat”.

Tidak ada yang membatasi kita untuk berhenti belajar. Bagi yang masih sekolah, belajar adalah makanan tiap hari. Bagi yang masih muda, belajar adalah kewajiban untuk bekal di hari tua. Bagi yang sudah tua, terus belajar akan membuatnya semakin arif dan bijaksana. Bagi yang sudah sukses, belajar adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuksesannya.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar, kecuali maut sudah menjemput. Sehebat apapun kita sekarang, masih banyak hal yang belum kita tahu. Teknologi terus berkembang, politik dan ekonomi selalu berubah, ada undang-undang baru, strategi investasi baru, kawasan industri baru, peluang bisnis baru, keahlian baru, penemuan-penemuan baru, dan lain sebagainya hasil dari inovasi yang tiada henti. Perubahan selalu terjadi, kalau kita tidak belajar mengikuti perkembangan jaman, kita akan menjadi seperti seorang kakek yang baru turun gunung dan mendapati dirinya terdampar di negeri yang asing, terkejut dengan pesatnya perubahan yang terjadi. Seperti kata pepatah, “Tidak ada yang kekal di dunia ini. Yang kekal adalah perubahan itu sendiri.”

Jika diibaratkan konteks itu gelas dan isi itu air, sebuah gelas yang kecil bila dituangi air terus-menerus pasti akan meluap. Maka diperlukan gelas yang lebih besar untuk menampung air yang lebih banyak. Konteks adalah kapasitas pikiran kita menyimpan informasi dan isinya adalah ilmu dan pengetahuan yang kita cari. Dengan terus belajar, konteks kita akan meluas. Dengan isi-isi baru yang relevan, kita akan semakin pandai berlari mengejar sukses.

Pikiran kita bekerja sesuai dengan pemahaman tentang apa-apa yang kita tahu. Jika di era informasi yang semakin canggih ini kita tidak tahu apa-apa, maka kesuksesan hanya akan menjadi seperti istana di seberang sungai, yang dapat kita lihat tapi tak dapat kita capai. Dengan belajar, kita membuat perahu yang berlayar menyeberangi sungai menuju istana impian kita atau membangun jembatan yang menyeberangi sungai itu.Hanya orang bodoh yang berhenti belajar…Selamat belajar hal baru yang akan membuat Anda luar biasa!


Tq to; Dody

Monday, April 7, 2008

Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

 
Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

"Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian." ungkap seorang guru di Finlandia.

"Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri," kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia,

"Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah." Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah.

"Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan." sambungnya.


Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha. Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.

Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah!" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

"Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa," kata seorang guru,

"Maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya."

Benar-benar ucapan guru yang bertanggungjawab.


Kuambil dari "Top of the Class" Fergus Bordewich.