Pages

Monday, April 25, 2011

Gaya pengasuhan anak ala Amerika vs China

Mungkin tulisan kali ini saya mulai dengan sedikit "curhat", .... Ntah kenapa... dalam beberapa hari belakangan ini, saya  kefikiran terus tentang yang namanya“pola asuh anak” Mungkin ini mungkin yah, karena basic saya sebagai lulusan fakultas pendidikan atau bahasa gaulnya  fakultas umar bakri .... atau mungkin karena mengingat umur maka otak dikepala ini sudah saya sudah mulai  mencari program software baru untuk diinstal yang namanya  "being a good dad.ver.01".. hahaha.....


Yaiyalah belajar "parenting" kan nggak harus menunggu dulu lepasnya status "single"   menjadi "married" baru boleh belajar....iya nggak? 

Anyway,... sebenarnya kefikiran tentang "pola asuh anak" ini karena terpicu kejadian beberapa hari belakangan ini. Ceritanya begini, dalam semingguan belakangan ini saya kedatangan beberapa tamu dari Indonesia, juga mengunjungi beberapa  kawan serta beberapa kali secara tidak sengaja ketemu dengan beberapa kawan  lama.  Ada persamaan diantara mereka semua yakni, mereka sama-sama sudah "married" dan memiliki "anak". 

Tak terasa waktu berjalan, dulu rata-rata kawan-kawan itu boleh dikatakan sebaya, sepantaran dan  bahkan beberapa diantaranya merupakan kawan "seperjuangan" dengan saya. Namun sekarang pemandanganya (baca; situasi) agak sedikit berbeda. Kalau dulu kawan-kawan saya itu rata-rata "single fighter", namun sekarang, mereka sudah pada ditemani "srikandi" mereka masing-masing, plus anak-anak kecil disekeliling mereka.  

Yeah..! ternyata waktu memang berjalan sedemikian cepatnya. Kalau dulu beberapa kawan-kawan itu belum menikah, memiliki anak atau anak-anak mereka masih kecil dan baru belajar untuk duduk, kini "mereka  kompakan sudah memiliki anak bahkan anak-anak" mereka itu sekarang sudah mampu mengarungi samudera, berkeliling dari satu daerah ke daerah lainya juga dari satu negara kenegara lainya menemani kedua orang tuanya yang sedang "ber-honeymoon" yang ntah untuk keberapa kalinya. 

Anyhow, diantara renetetan kejadian-kejadian pertemuan dengan kawan-kawan tersebut, yang menarik bagi saya, serta yang membuat saya kefikiran adalah adalah anak-anak mereka serta pola asuh yang diterapkan kawan-kawan saya tersebut dalam membesarkan anak-anaknya selama ini. Dan seperti yang saya sebutkan diatas mungkin karena nature saya sebagai lulusan fakultas pendidikan, selalu mempengaruhi dan memantik rasa ingin tahu saya ketika hal-hal tersebut bersinggungan dengan yang namanya "teaching" dan "nurturing". 

Sekedar info,  ketika kuliah dulu di Makassar dan juga sekarang di Kuala Lumpur ini,  saya selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan ini. Dan kalau boleh sedikit sombong (yang sayangnya dilarang agama..hehehe) untuk matakuliah yang berhubungan dengan ini seperti, Psikology Pendidikan atau belajar dan pembelajaran nilai saya selalu membanggakan, dan bahkan jadi kesayangan dosen pemangku matakuliah itu ...wkwkwk,.. yeah mungkin karena suka kali yah waktu itu,... makax usahanya dilebihin..


Lagian, saya juga termasuk tipe orang yang suka dengan anak kecil, sedikit info tentang saya, selama ini hampir tidak satupun anak kecil yang menolak untuk saya gendong atau saya ajak main..heheehe apalagi disogok pakai coklat dulu... pasti jadi rebutan.hehe... nih salah satunya..



Dalam kacamata saya (saya pria berkacamata loh) dunia anak-anak adalah dunia yang penuh dengan warna-warni, dunia yang ceria serta penuh dengan bumbu  canda dan tawa. Namun tidak semua anak-anak bisa merasakanya karena tidak semua orang tua bisa menyajikan itu semua kepada anak-anak yang diamanahkan kepada mereka, dengan berbagai macam alasan maupun keterbatasan.

Dunia anak-anak adalah  dunia yang seharusnya penuh dengan kedamaian, ketentraman sehingga anak bisa tumbuh dengan selayaknya, berkembang mengikuti jalanya usia, bergerak mengimbangi perkembangan lingkungan, tuntutan serta peran dalam keluarga. namun sekali lagi tidak semua orang tua mampu menyediakan itu semua.  karena itu semua mesti ditunjang oleh berbagai faktor seperti;  ekonomi  dan pola asuh anak, sebenarnya masih ada hal-hal lain yang berkaitan erat dengan ini semua, namun saya mungkin cuman kan menyentuh dua faktor tersebut dan lebih spesifik lagi di point pola asuh anak.


Namun sekali lagi saya menegaskan tulisan ini bukan mencoba ngejudge atau memperbanding-bandingkan kapabilitas beberapa kawan-kawan saya itu dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. Saya hanya pengamat kasta sudra tentang "pola asuh anak", penikmat artikel-artikel parenting  yang kebetuan juga senang dengan dunia anak-anak.

Setahu saya yang masih awam ini jika kita berbricara tentang pola asuh anak secara umum ada dua kutub pola asuh yang selama ini menjadi patokan dalam mengasuh anak-anak. Yakni yang berkutub kepada pola pendidikan (timur) yang diwakili China dan barat yang terwakilkan oleh pola pendidikan Amerika. 

Otoriter, disiplin dan kerja keras, demi menggapai sukses di manapun berada adalah ciri orang tua China dalam mendidik anaknya sementara pola asuh gaya orang tua Amerika lebih cenderung permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. 
Orang tua di Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. Anak-anak Cina juga dibiasakan untuk tidak tergantung pada orang lain dan serta selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri berdasarkan falsafah hidup untuk tidak mempermalukan keluarga.

Bagi yang pernah membaca buku dengan judul “Battle Hymn of the Tiger Mother?” karya Amy Chua. pasti punya gambaran mengenai  cara si penulis buku tersebut dalam mengasuh 2 anaknya menggunakan pola pendidikan tradisional Cina.Buku best seller tentang sebuah pola asuh yang menerapkan pola tradisional China dalam keluarga. Buku yang kini jadi referensi bagi penganut pola asuh dengan menggunakan gaya China tradisional. 


Berbeda lagi dengan pola asuh keluarga di Amerika yang bertumpu pada tiga sumbu yakni permisif, berorientasi kekuasaan namun menuntut kesuksesan. sikap permisif dalam merawat anak menumbuhkan penghargaan atas diri sehingga bisa membentuk rasa percaya diri anak. Anak menjadi lebih berani mencoba hal baru.  orangtua juga bisa memposisikan dirinya sebagai pihak yang berkuasa yang patut didengar ketika anak sudah melampaui batas. Bersikap menuntut serta menggantungkan harapan kepada anak untuk memenuhi keinginan orang tua. 
 

Psikolog sosial Susan Newman, PhD, penulis buku The Case For The Only Child, mengatakan setiap pola asuh yang dipengaruhi oleh budaya masing-masing bangsa punya sisi positif juga negatif. dalam pola asuh china para orang tua cenderung menggembleng anak-anak dengan keras, tujuannya agar anak berusaha sekuat tenaga mencapai hasil maksimal. Saat anak menunjukkan sikap tak menghargai orangtua, anak-anak harus bersiap menerima omelan atau kritikan tajam dari para orangtuanya.Ini adalah mentalitas masyarakat China yang diterapkan dalam pola asuh anak di manapun mereka berada. Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar. Lain halnya dengan  pola pengasuhan orang Amerika yang  pada umumnya mereka cenderung lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya. 

Nah pertanyaanya sekarang bagaimana dengan pola pengasuhan kita di Indonesia selama ini... beberpa psikolog serta pakar parenting menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara kedua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika.
Ini disebabkan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama sangat mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. Pola asuh antara orang tua yang di kota-kota besar  dan di desa-desa juga berbeda. Masyarakat desa di Indonesia menurut sebuah lembaga survey cenderung  lebih permisif. Dimana orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Sementara  di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan.


To be continued.. 


















0 comments: