Selamat ultah yaa.. ini yang keberapa ?? boleh beri tahu nggak, but let me guess? today its your 29th birthday right?... In this such of ages what had u done in your life? … btw, 29 tahun itu bukan waktu yang singkat loh,.. namun merupakan kumpulan dari 10585 hari, 25404 jam yang telah terlewati, yang berarti telah 15242400 menit sudah waktu yang kamu habiskan di dunia ini….
Wednesday, February 16, 2011
HBD.. buat yg punya blog ini.."kebetulan" saya nulis
Selamat ultah yaa.. ini yang keberapa ?? boleh beri tahu nggak, but let me guess? today its your 29th birthday right?... In this such of ages what had u done in your life? … btw, 29 tahun itu bukan waktu yang singkat loh,.. namun merupakan kumpulan dari 10585 hari, 25404 jam yang telah terlewati, yang berarti telah 15242400 menit sudah waktu yang kamu habiskan di dunia ini….
Wednesday, February 2, 2011
PCIM.. The Story
PCIM merupakan singkatan dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah… hampir semua negara yang memiliki orang2 (baca; kader) Muhammadiyah yang berasal dari Indonesia biasanya memiliki PCIM2-nya masing2 seperti Mesir, Syiria, Canada, USA, Inggris.dll .. jumlah pastinya sy kurang begitu tahu tepatnya, namun ketika saya berkesempatan ikut tim muktamar 1 abad di Yogya sebagai perutusan dari PCIM Malaysia, kami sempat berinteraksi dgn banyak negara2 yg mengirimkan utusan PCIM-nya masing2.. biasax PCIM2 ini didirikan oleh mahasiswa2 atw expatriate (baca; TKI professional) yang berasal dari Indonesia yang memiliki basic kemuhammadiyahan serta haus akan siraman2 rohani dlm medium yang berkontekskan silaturahim dan keilmuan.
Anyhow, masih segar di benak saya, kapan pertama kalinya saya berkenalan dengan PCIM-KL atau PCIM-Kuala Lumpur... ceritanya begini ..Alkisah kira2 kurang lebih 2 tahun lepas waktu itu saya lagi laper2nya soalx dari pagi blum sarapan ..maklum anak kost yang jomblo jd nggak ada yg ngurusin makanx .. hehe..trus waktu itu diajakin bang Ramadlan Kurniawan seorang sahabat yang ngerangkap bapak kost saya waktu itu, sekaligus mentor dan mau2nya menjadi tempat curhat saya selama ini…hehehe.!! Seorang sahabat yang senantiasa ringan tangan membantu kawan2x, termasuk sy yg paling sering ngerepotin dia…sosok yang boleh saya nilai sebagai sosok yang “tangguh” dan “bertanggung jawab”… dialah yang pertama kali memperkenalkan saya apa itu PCIM.. !!
Lucu sih kalau saya teringat kembali kejadian di pagi menjelang siang itu. Waktu itu saya nanya balik ke dia “ ada makan2nya nggak bang??” waktu dia nanya kesaya “bud siang ini ada kgiatan gak..? klw nggak ada yuk ke UIA ada acara ngumpul2”.. jawabnya waktu itu simple “ada lah!!”… lalu dengan respond dan semangat 45 saya langsung menjawab “oke bang, sy ikut!!”….
Pertemuan siang itulah awal dari saya berinteraksi dengan orang2 Muhammadiyah di M’sia, orang2 PCIM Kuala Lumpur… dan!!, ……. Ntah mengapa .. ketika itu saya amat terkesan dengan yang namanya “kedewasaan” serta “semangat” dari orang2 yang ada dalam ruangan rapat itu… ada sesuatu yang baru… sesuatu yang membuat saya begitu tertarik dengan melihat interaksi yang terjadi didalam ruangan itu….. interaksi yang bagaikan magnet yg mengusik keingintahuan saya lebih lanjut… khususx tentang orang2 yang ada dalam ruangan itu.. tentang PCIM-KL dan tentang kemuhammadiyahan secara umumnya..!!
Di ruangan itulah sy pertama kali berkenalan dengan beberapa orang2 dengan basic keilmuan yg “high level” dan spirit berdakwah yang “extraordinary”,.. Dan diruangan rapat itulah saya dibuat terperangah dengan sikap kedewasaan yang dibungkus dalam intelektualitas serta silaturahim dlam berorganisasi. Beberapa sosok yang kedepanya ternyata saya diberikan kesempatan untuk bisa menimba ilmu, mencotoh dan berinteraksi bersama mereka. Dalam ruangan itulah semangat berorganisasi saya bangkit kembali, setelah jelang beberapa saat vakum, yah mungkin sih!!..sudah “jenuh” dengan berbagai polemik serta nuansa “ketidak dewasaan’ dimana “emosi” masih sering menjadi pemandangan umum ketika interaksi di bebeberapa organisasi yg pernah sy mengambil bagian di dalamnya. Namun, pada hari itu, suatu pemandangan baru, suatu “atmosphere” baru saya temukan dalam berorganisasi,..
Nah, semenjak saat itulah sampai saat sekarang ini, salah satu aktivitas keseharian saya selain berkuliah di Fakultas Linguistics, University of Malaya, trus nyambi nyari duit dibeberapa spot di KL, sy jg ber-PCIM…haha… anyway dengan ber-PCIM, sebenarnya saya sangat beruntung loh,..!! bisa banyak mengenal orang2 dan mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan diri,.. namun diluar semua itu saya merasa sangat, sangat beruntung….. bisa mengenal beberapa sosok2 dengan karakter yang luar biasa. seprti sosok yang “berilmu sekaligus memeliki kemampuan managerial yang handal” seperti Prof.Akhyar Adnan, sang ketua PCIM.ada juga Sosok yg “tegas” dan “punya kedalaman ilmu agama” seperti ust.Arifin Ismail, sosok yg penuh “energy” dan “easy going” seperti pak Zulfan Haidar. Dan figur lain seperti pak Sulthon Kamal yang penuh “ketenangan namun efektif dalam bekerja” dan yang laen.laenx,..masih banyak sih sebenarnya yang saya “salut” atas sumbangsihnya dalam mengembangkan PCIM di Malaysia selama ini, namun yang menjadi favorit saya ..hehehe ..ialah Sekum PCIM, pak DR.Sonny Zulhuda, yang menurut saya sosok yang bersahaja dgn senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Nah..!! itulah beberapa figur yang saya lihat pertama kali di ruang rapat siang itu,… sosok yang banyak membuat sya berfikir... “bisa nggak yah sy jg seperti mereka”….. Btw,.. sebenarnya pada saat rapat diruangan tersebut saya jg amat berkesan dgn beberapa sosok anak muda yang sy rasa umurnya nggak jauh2 amat dgn saya… seperti mas Nostalgiawan dan mas Rahmat.R mereka berdua adalah sosok2 penuh talenta dgn semangat dan konsistensi yang tinggi yang dalam kurun waktu setahun ini saya melihat begitu bersemangat dalam ber PCIM di Kuala Lumpur ini..
Bercerita tentang semangat orang2 di PCIM Kuala Lumpur, memang banyak di penuhi dgn figur2 yg penuh semangat dengan berbagai latar belakang dan basic keilmuan masing2 mewarnai perjalanan PCIM di Malaysia sampai saat ini, bahkan sosok yang suka kontroversial dgn pengamatanx yg sering subjektif sehingga sering membuat polemik di KL seperti bang Afriadi Sanusi pun ketika menyangkut PCIM langsung semangat, nah mereka2 dan semangatnyalah yang telah menghidupkan gerakan muhammadiyah di luar negeri.
Dear all…. itulah sedikit tulisan tentang beyond the PCIM di Malaysia, namun Sebenarx tulisan ini saya buat berkenaan dgn akan diadakanx Musyawarah cabang Istimewa Luar Negeri Muhammadiyah, esok 3 February 2011, di Internationa Islamic University of Malaysia di Gombak,.. jadi cerita ini, yaah!!..saya sedikit bernostalgia dengan “ber-flashback ria” dengan memory tenatang awal saya berkenalan dengan PCIM di Malaysia serta para pengurus2 PCIM yang esok akan segera mengembalikan amanah yang telah dipercayakan kepada mereka,… semoga siapapun esok yang terpilih menggantikan Prof Akhyar Adnan, sebagai ketua PCIM yang baru bisa membawa PCIM lebih mantap kedepanx.
Anyway, awal yg “unik” ketika sy dulu pertama kali berkenalan dgn PCIM Malaysia, pada rapat yg, saya sebenarx “ngincer” makan siangx doang…hehe… akhirx menghantarkan saya berkenalan dengan sosok yang “luar biasa”,.. dan ternyata rasa “Excited” dan “kagum” saya siang itu bsa menutupi perut saya yg tetap keroncongan krn cmn disumpal pakai 2 biji kue dan segelas air mineral dalam kotak snack yg di bagikan kepada peserta rapat pada siang itu… hehehe… but I felt that I’m so lucky,….
Last but not least, besar harapan saya semoga acara esok lancar dan penuh kedewasaan seperti yg selama ini saya lihat dalam interaksi saya bersama rekan2 di PCIM. dan tidak seprti organisasi2 yg lain, yang ketika ada moment pergantian kepemimpinan kadangkala harus berakhir dgn adanya pihak yg “sakit hati” karena kalah atau tidak terakomodir …. esoklah pembuktian,..apakah benar PCIM Kuala Lumpur adalah organisasi yg dewasa dan penuh dengan orang2 yang berjiwa besar… kita lihat …..esok di Auditorium IIUM… kalau sempat kesana yah!!
KL, 2 feb 2011 (malam menjelang Muscab PCIM Malaysia 2011)
Yg dapat tugas jadi Sekertaris Muscab ..hehe
“b”
Tuesday, January 11, 2011
Sahabat & Cerita Sebuah Lesung Batu
Pindah rumah, serasa pengantin baru,.. haha, maksudx tuh sibuk berburu peralatan rumah tangga. Yah begitulah aktivitas kami beberapa hari ini, sibuk ngumpulin peralatan and kelengkapan rumah tangga.
Sunday, November 21, 2010
Mengapa Banyak Hewan Kurban Yang Menangis?
Di hari Raya Iedul Adha banyak sekali hewan ternak yang dikurbankan. Umat Islam meyakininya sebagai bagian dari warisan Nabi Ibrahim alaihissalaam. Kepada Ibrahim Tuhan mengajarkan kesediaan untuk berkorban. Kemudian ajaran itu diabadikan oleh Tuhan melalui Nabi-Nabi yang datang kemudian. Setiap mahluk yang tunduk kepada Tuhannya tentu akan dengan senang hati menjalani perintah-Nya. Termasuk hewan-hewan ternak itu. Tetapi, apakah setiap hewan kurban bersuka cita ketika mereka memberikan pengorbanan itu?
Di masa kecil, hati saya sering dipenuhi oleh kisah-kisah indah yang menceritakan tentang hewan-hewan yang senang kalau dipilih untuk menjadi kurban. Meskipun mereka mati, namun kematiannya membuat Tuhan senang. Sehingga, hewan-hewan itu bisa menjadi mahluk yang disayang oleh Tuhannya.
Setelah dewasa, sudut pandang saya mulai berubah. Bahkan, panca indera saya merasakan ada hewan yang meneteskan air mata ketika terpilih menjadi kurban. Semakin saya tua, semakin banyak cerita tentang hewan-hewan yang menangis itu. Lalu saya bertanya dalam hati; ”Apakah hewan-hewan di zaman ini sudah enggan untuk diajak lebih dekat dengan Tuhan?”
Lama saya memikirkan sebuah jawaban. Hingga saya kembali teringat tentang apa yang pernah saya alami dulu. Sewaktu masih kecil, saya adalah penggembala domba. Dan saya biasa berbicara dengan domba-domba saya. Kali ini pun saya merasa seolah tengah berdiskusi dengan mereka.”Wahai domba-dombaku,” Saya bertanya; ”mengapa sekarang kalian enggan menjadi hewan kurban?”
Domba-domba itu terperanjat, lalu menjawab;”Embeee...k” katanya.
”Kenapa begitu?” balas saya. Lalu mereka berkata:”Bekmbek, eeeeeembeeeeek....”
Anda yang tidak mengerti bahasa para domba tidak akan memahami isi dialog kami. Tapi, sekarang saya faham mengapa banyak hewan kurban yang menangis di hari raya Iedul Adha. Para domba bilang, mereka menangis karena banyak sekali orang yang berkurban bukan untuk mencari karunia Tuhan. Melainkan sekedar ingin mendapatkan pujian. Para domba dan teman-temannya sesama hewan kurban sedih sekali melihat perilaku para manusia. Mereka mengira bahwa kurbannya itu akan sampai kepada Tuhan sebagai suatu amalan. Padahal dengan niatnya yang tidak lurus lagi, tidak mungkin Tuhan menilainya sebagai suatu kebaikan.
Diantara manusia ada yang berkurban karena merasa ’tidak enak’ oleh tetangganya. ”Orang mampu kok tidak berkurban, apa kata dunia?” Padahal hanya soal membayar pajak yang boleh sambil bilang begitu.
Diantara mereka juga ada yang berkurban untuk sekedar pameran. ”Lihat nih, hewan kurban gue yang paling gede!”
Ada pula yang berkurban untuk beragam alasan lainnya selain mendekatkan diri kepada Tuhan. Ibadah sudah berubah menjadi sekedar ritual yang hampa akan makna. Maka wajar jika para hewan yang dikurbankan itu merasa pengorbanannya tidak lagi memiliki nilai spiritual seperti halnya yang diajarkan Tuhan kepada Ibrahim.
Domba-domba saya bercerita tentang betapa banyaknya manusia yang mengira bahwa kurbannya bakal diterima oleh Tuhan. Padahal, Tuhan sudah berfirman bahwa tidak sedikitpun bagian dari hewan kurban itu akan sampai kepada-Nya. Tidak dagingnya. Tidak darahnya. Bahkan tidak sekalipun hanya sehelai bulunya.
Domba-domba saya bercerita tentang betapa sedihnya mereka melihat tingkah polah manusia yang telah kehilangan esensi dari kurbannya. Mereka hanya melihat jasad kasar hewan-hewan yang dikurbankan. Padahal hakekat dari kurban melampaui batasan-batasan kasat mata belaka. Karena hakekat kurban adalah komitmen untuk menyembelih nafsu kebinatangan yang masih berkeliaran didalam diri kita.
Binatang tidak malu membuka-buka aurat didepan umum. Kita berkurban, tapi tetap berbangga hati dengan aurat-aurat yang kita perlihatkan. Binatang tidak segan untuk merebut makanan milik teman. Kita berkurban, tetapi masih berani merampas harta benda yang bukan hak kita. Binatang tidak sungkan untuk mengumbar syahwat dimana saja dan dengan siapa saja. Kita berkurban, tapi tidak lagi menghiraukan siapa yang muhrim dan siapa yang haram untuk berhubungan intim. Binatang juga berprinsip siapa yang paling kuat fisiknya, dialah yang menjadi rajanya. Kita berkurban, namun masih gemar menerapkan hukum rimba sehingga akal dan nurani kita tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Domba-domba saya bercerita, betapa sedihnya mereka melihat tingkah polah manusia yang berkurban namun tetap membiarkan hidup sifat-sifat kebinatangan didalam dirinya. Sehingga di hari raya Iedul Adha, banyak orang yang kehilangan makna dari kurban yang dilakukannya. Diakhir pertemuan itu, domba-domba saya berpesan;”Jika engkau berkurban, maka luruskanlah niatmu hanya untuk Tuhanmu. Dan sembelihlah nafsu-nafsu kebinatangan didalam dirimu. Maka aku akan bersuka cita untuk menjadi simbol kurbanmu....”
Ketika domba saya hendak dikurbankan, dia terlihat meneteskan air mata. Lalu saya bertanya;”Mengapa engkau menangis? Apakah aku belum meluruskan niatku?”
Domba saya berkata;”Sekarang aku menangis oleh rasa syukurku, karena Tuhan telah memilihku menjadi hewan kurbanmu....”
source;
blog; Dadang Kadarusman
Leadership & People Development Training
Sunday, October 24, 2010
Ciri-Ciri Orang Berpikiran Positif
1. Melihat masalah sebagai tantangan.
2. Menikmati hidupnya.
3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide.
4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak.
5. Mensyukuri apa yang dimilikinya.
6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu.
7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan.
8. Menggunakan bahasa positif.
9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif.
10. Peduli pada citra diri.
…
nah pertanyaanx "Apakah attitude pada diri kita sudah merangkum itu semua... kalau saya yang ditanya begitu...jawaban saya sederhana ...sy masih berusaha untuk melatih diri untuk bisa seperti itu..!!
Sumber: Anonymous
Friday, October 22, 2010
Guru Istimewa Untuk Murid Yang Istimewa
Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mengajarkan tapi juga mendidik. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Dulu waktu masih di bangku kuliahan di fakultas umar bakri disebuah universitas di Makassar, kalimat-kalimat diatas sering kali terdengar, namun seringkali cuman masuk ditelinga kiri, hinggap sebentar di otak, lalu keluar lagi di telinga kanan, yah kalimat2 diatas kerap kali menjadi doktrin2 pamungkas yg kerap keluar dri mulut para dosen matakuliah yang mengajarkan “how to be a good teacher”… yayaya!!.. saya masih ingat kok siapa- nama dosen yang pernah ngucapin kalimat2 itu bahkan saya masih ingat kok siapa-siapa nama dosen-dosen yg pernah ngajar waktu di bangku kuliahan bahkan guru2 dri SD sampai STM pun rasa2 nya masih saya ingat,.. yaah minimal itulah appresiasi saya sebagai murid yg pernah mereka ajar dengan tidak melupakan nama mereka,… karena jauh dilubuk hati saya juga berharap kelak murid-murid yang pernah saya ajar tidak juga lupa terhadap saya…ngareeppp,,…hehehe
Menjadi guru memang penuh suka duka, itu yang sering saya tangkap dri pembicaraan dgn kawan2 yg seprofesi, baik dulu di Makassar di Batam ataupun skrg di Kuala Lumpur ini.. dari kisah2 yg diceritakan kawan2, sy bisa mengambil benang merah cerita mereka, bahwa …Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang, apalagi jika tidak disertai dengan niatan tulus karena ingin mendidik dan membimbing para murid2nya.
Berat memang menjadi seorang guru yg bisa mendidik ..”not just teaching but also nurturing” diperlukan daya tahan tubuh yang lebih serta kesabaran diatas rata-rata apalagi menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. …
Maksud sy keistimewaan disini adalah anak-anak didik yang lain dripada yg biasanya kita temui,…yaah ada yg bilang org cacat mental or fisik, ataw di Malaysia ada istilah OKU (orang kurang upaya), … yaah terserah deh gmn mau nyebutinnya,.. namun yang pasti saya ada sdikit cerita, sekaligus saya merasa beruntung sekali pernah menjadi guru anak-anak berlabel “istimewa" ini, walau hanya dalam kurun waktu yg singkat. Ada kenikmatan tersendiri, berada mengajar anak-anak dengan latar belakang 2 anak lelaki dyslexia dan sepasang anak Cerebral Palsy (sindroma gangguan otak belakang) yg menyebabkan mereka keterbelakangan mental
Ceritanya begini waktu itu ada kawan yang nge sms ketika saya baru saja selesai maen futsal bersama kawan2 di hari minggu, suatu rutinitas akhir pekan yg kerap kami lakukan untuk menjaga kebugaran tubuh serta silaturahim mhasiswa2 Indonesia di University Malaya, bunyi smsnya seperti ini…
Asslm… bud,.. ada 2 anak yg perlu guru privat untuk diajarin xxxx, anak yg stu umur 17 thun dan satunya lagi 15 tpi mereka agak terbelakang mentalnya, kalau mau hari selasa sdh bs dimulai, gmn …
Nah jadilah saya “cikgu” (guru) dadakan, … yah mau diapalagi selain saya perlu kerjaan waktu itu, serta berbagai alasan lainya seperti, saya perlu latihan mengajar,… maka proses belajar-mengajar pun dimulai,.. dan sy berharap juga dengan mengajar mereka saya tdk lupa thd pelajaran yg pernah saya pelajari.. akhirnya anak-anak “istimewa” itu di bawah arahan “cikgu budi” hehehe memulai cerita kebersamaan mereka dan lumayan bertahan,
Mungkin karena saya betah ngajarin anak2 dgn jenis “istimewa” Lalu ada lagi kawan yang mewariskan kelas home tuition dikarenakan dia harus kembali ke Indonesia dan sperti yg anda bisa tebak kali ini yg diwariskanya adalah 2 adik kakak…. Anak2 “istimewa” penderita dyslexia.
Kisah kasih..kekekek..or cerita suka duka mengajarkan anak2 dengan keistimewaan, tersebut terlalu banyak yg berkesan bagi saya, namun yg pasti dari merekalah saya banyak mendapatkan ilmu,.. loh kok bisa, padahal kan saya yg ngajarin mereka??......... yah namun itulah faktanya saya mendpatkan banyak manfaat dari mengajar anak2 berlabel “istimewa” ini …… sinmplenya seperti ini; untuk anak yg menderita keterbelakangan mental saya lebih banyak di uji kesabaran,.. hehehe…
Coba deh bayangkan untuk mengajari hal yg sama saya harus mengulangi itu berkali2 bahkan mungkin seratusan kali… hari ini hafal pertemuan berikutnya sdh lupa lagi..hehehe,.. blum lagi klw dalam proses belajarnya mereka nggak mood atw bertengkar sesamanya,.. atw yg lebih parah kalau ada diantara mereka yg lagi belajar tiba2 ngompol..bisa dibayangkan betapa serunya anak remaja umur 17 tahun dan 15 tahun sedang anda ajar tiba2 ngompol..hahaha..seruuu !!!.....dan pernah sekali lebih parah lagi, kami lagi sholat berjamaah tiba2 salah satunya ngompol saking banyaknya sampai ngebasahin sejadah dan kaki saya jg bawah celana saya ,..yaa otomatis shalat harus diulang dgn celana yg lain tentunya ..trus mana saya nggak bawa celana ganti lagi, dan lebih parahnya lagi saya sebenarx mau singgah ke kondangan selepas ngajar mereka….hahaha.. Nah itu sekelumit cerita tntang murid saya yg memiliki keterbelakangan mental.
Lain lagi dengan 2 murid saya yg menderita dyslexia,… dari kedua anak inilah saya justru banyak belajar mengenai apa itu “mengajar” dri persepektif yg lain,.. ceritanya bgini, waktu itu saya dapat “warisan” dri seorang sahabat yg kuliah masternya di UM sdh selesai dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia, akhirnya berkat dialah saya berkesempatan ngajarin 2 org anak yg menderita dyslexia ini, saya kurang begitu tahu alasan dibalik knapa dia memilih saya untuk melanjutkan ini,.... ntah!! mungkin karena dia menilai saya org yg patut di bantu dri segi ekonomi yaa..weuw.weuw…!! atw karena melihat track record saya pernah ngajarin anak “istimewa” sebelumnya dan lumayan bertahan…hahaha
Anyhow,.. the journey goes on.. Pada awalnya sih saya agak ragu apakah saya mampu untuk bs ngajarin anak2 ini, … baik 2 anak yg punya keterbelakangan mental atau 2 anak penderita dyslexia ini,.. soalnya saya nggak pernah ngambil matakuliah “ disorder linguistic atw human communication disorder” jdi untuk menghadapi anak2 dengan keistimewaan seperti itu saya jujur saja, nggak ada basic yg mumpuni… namun karena melihat kawan saya yang pernah ngajarin ini anak malah basic keilmuannya justru ekonomi, saya jd tertantang.. “ dia aja bisa kenapa saya nggak” …
Akhirnya proses belajar mengajarpun dimulai,.. 1-2 bulan pertama mengajar anak2 dyslexia ini banyak makan hati … anak2 dgn jenis ini sering bengong dan berimajinasi sendiri yah seperti dibahasakan beberapa ahli yg saya baca journalnya, mereka tercluster sbgai “above-average Imagination” ..yaa mereka memiliki tingkat imajinasi yg sangat tinggi… namun berkat merekalah saya bisa mempraktekkan beberapa teori atw approach pengajaran, merekalah laboratorium hidup saya… berkat merekalah saya membuka journal2 kesehatan dan psychology tentang apa itu dyslexia,.. berkat mereka pulalah wawasan saya tentang psychology anak2 bertambah,.. walaupun klw dibandingkan kak seto atw pakar perkembangan jiwa anak2 saya ini masih golongan kasta sudra…hahahaha…
Namun situasi berinteraksi dgn anak2 dyslexia yg membantuku menemukan satu pendekatan atw treatment terhadap mereka bahwa mereka perlu sentuhan kasih sayang dan apresiasi yg lebih dari org2 disekelilingnya dan satu kesimpulan bahwa anak2 penderita dyslexia itu sebenarnya “genius” dalam bidangnya tinggal orang tua dan guru yg membantu serta mengarahkan mereka menemukan di bidang apa mereka sebenarnya unggul… yg pasti jika mereka mendapatkan treatmen yg pas,.. akan lahir lagi ilmuwan sekelas Albert Einstein, Leonardo da Vinci, artis sekelas Tom Cruise, Keanu reeves, Orlando Bloom atw pemimpin negara sekelas Lee Kuan Yeuw serta masih banyak lagi org2 yg hebat lainnya yg ketika mereka kecil di vonis menderita dyslexia.
Yaah memiliki pengalamn pernah mengajar beberapa anak2 “istimewa” benar-benar membuka kesempatan saya untuk belajar lagi memahami “ciptaan” yang maha kuasa, namun seperti yg kita yakini baik kita ataupun mereka si anak2 istimewa terlahir untuk sebuah scenario kehidupan yg telah terancang dan bukan karena suatu kebetulan atau kesia-sia. Kita maupun mereka terlahir untuk suatu skenario kehidupan yg sungguh luar biasa jika kita sadar akan hal tersebut.
Namun sayangnya kisah-kasih kebersamaan dengan mereka harus berakhir ..yaa "cikgu budi" harus pensiun ..hehehe,.. si kakak adik keterbelakangan mental harus berakhir karena alasan jarak dan transportasi yg nggak mendukung,.. soalx waktu itu masih pakai motor YASUGOK (yamaha suka mogok) yng lumayan boros dan berbahan bakar bensin campur (campur dorong maksudx)... sampai akhirx si yasugok harus di musiumkan karna nggak sanggup lagi berlari...hehehe, mana klw pakai tranportasi umum harus pakai kereta LRT dan 2 kali naik bus umum dgn jurusan yg berbeda, jadi klw ngajar harus 2 jam sblum waktux sdh harus brngkat dri rumah... jadi akhirx setelah mengajar 5 bulanan minta pensiun dini..hehehe... berbeda dengan anak2 penderita dyslexia ini kisah kebersamaan kami selama kurang lebih setahun harus berakhir ketika keluarga mereka memutuskan untuk pindah rumah...sedih sih !! namun kisah bersama murid2 istimewaku ini tak akan pernah terlupankan..(suatu saat sy akan menuliskan lebih tentang kisah2 dan methode2 pengajaran yg terapkan terhadap murid2 penderita dyslexia saya ini)
Anyway, Kembali kepersoalan guru atw tenaga pengajar,.. saya teringat kalimat2 di sebuah blog milik kenalan saya yang mengatakan menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya ‘bintang” kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik mereka.
sahabatku pembaca blog ini, saran saya jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan….
Kuala Lumpur,.. 2010
Cikgu yg sedang terkenang murid2 “istimewanya”
Budi,..
Friday, October 1, 2010
Detik2 yg Menentukan
Hari ini tanggal 1 oktober...ada yg ingat ini hari apa,.. ayoo?? what,!! hari jumat...bener juga sih..tapi yg pasti di Indonesia, hari ini sekarang lagi diperingati sbg hari kesaktian pancasila... masih diperingatikan di tanah air kita, kan??.. atau jangan jangan2 pancasila sdh punah??...maklum sy jarang pulang ke indonesia jd nggak tahu perjalanan karir sang pancasila..hehehe bukan krena betah di negeri orang tpi karna misi belum tuntas ..jdi keinginan pulang masih ditahan2..hehehe
Oiya sekedar info menyangkut judul yg diatas dan berkenaan dgn hari kesaktian Pancasila, momenx pas bagi sy karna pas beberapa saat tadi tadi sy bru saja khatam membaca buku dengan Judul "Detik-detik yg menentukan" jalan panjang menuju demokrasi .. karya Pak habibie ..salah satu mantan presiden republik indonesia dan salah satu idola saya sejak kecil...hehehe,... buku setebal 550 halaman itu berhasil kutamatkan kurang dri seminggu tak kenal waktu dan tempat aku ngebaca buku ini, kadang di perpus, di kamar ,di atas angkutan umum bahkan disela2 kerja partimeku di sebuah restoran..... buku ini memang sengaja sya rencanakn pas akan sy khatamx tepat di 1 oktober, di hari kesaktian pancasila sebagai hadiahku kepada pancasila symbol bangsaku yg sakti.. dan menunjukkan kepada diriku sendiri bahwa saya masih cinta kepada kepada Indonesia walaupun sudah bertahun2 tinggal dan belajar sbg mahasiswa di Kuala Lumpur..Hidup Pancasila..
yaaah..!! Terpulang ada yang menjuluki pancasila ... sbagai berhala saman modern atw peninggalan orba.... yang pasti pancasila adalah salah satu symbol pemersatu yang efektif buat negara Indonesia,.. negara besar dengan berbagai ragam corak budaya dan karakter,.. yang memerlukan symbol2 sakti pemersatu bangsa ...dan Pancasila terlahir dari pemikiran Brilliant our founding father kita... so sudah selayaknya kita menghargainya ..iya nggak??
Nah kembali kepersoalan si "detik2 menentukan" buku karangan pak habibi ini sebenarx sudah lama sy inginkan untuk menambah jajaran buku2 koleksi saya,.. namun sy baru memilikinya kurang dari seminggu ini,.. krn susah mau ngedapetin buku2 terbitan Indonesia di kuala lumpur, kalaupun dapat biasax sdh agak mahal dan kurang terjangkau dengan kantong2 mahasiswa kere seperti saya... beruntunglah ada seorang kawan yg kebetulan berlibur di Indonesia dan akan segera balik ke Kuala lumpur, nah dengannya lah saya menitipkan pesan untuk dibawaiin buku ini, tentu saja hargax jadi murah soalx nggak pakai kurs ringgit malaysia atw ongkos kirim...friends connection.. hehehe,..anyway thanks yaa fren,thanks for the book n i wish u all the best in return.
Nah dari buku inilah banyak pertanyaan2 yg dulu sering hinggap di kepala saya ketika proses reformasi terjadi di Indonesia pda tahun 1998 ketika proses peralihan kekuasaan dari pak Harto ke Pak habibie,..... terjawab tuntas!!!
Dari buku inilah saya melihat perspektif lain terlahirx sebuah proses demokrasi terjadi, dan dari buku inilah saya memperoleh kesimpulan "jikalau ketika itu Pak habibie bukan seorang yang tidak dekat dengan Allah" dan jikalau pak habibie seorang yang kemaruk akan kekuasaan "republik indonesia pasti sudah habis tenggelam dalam perang saudara dan proses balkanisasi dengan terpecah-pecahnya Indonesia kedalam puluhan negara-kecil yang kelak akan menjadi makanan siap saji buat negara2 adidaya yang rakus.... beruntunglah Indonesia masih memiliki Pak Habibie... dan beruntunglah kita semua ketika itu pak Habibie merupakan sosok yang tangguh dan capable serta "Ikhlas" dalam bekerja,..sehingga bisa membawa indonesia melewati "detik-detik yang menentukan" masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Dari buku itulah saya belajar melihat dari perspektif lain sosok seorang pemimpin ketika di terpa masalah dan tekanan namun tetap istiqomah dalam memegang amanah dari rakyat,.. dari buku itulah saya melihat pembelaan secara objective pak habibi terhadap tuntutan dan tekanan serta konspirasi ketika ia menjabat.... dan satu kesimpulan yang bisa saya berikan selepas membaca buku itu adalah,.. beliau berhasil melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya...
Pak Habibie,.. terimakasih banyak atas jasa-jasa yang telah engkau berikan kepada Indonesia,.. engkau adalah sosok manusia paripurna yang unggulan,.. dan sudah selayaknya kami menghaturkan appresiasi yang lebih atas segala usaha yang telah engkau persembahkan terhadap bangsa dan negara Indonesia kami...
Dan Kami berharap,.. Indonesia masih akan terus melahirkan habibie-habibie baru yang akan mewarnai perkembangan dan kemajuan Indonesia di masa yang akan datang.... We Love U pak Habibie…
Kuala Lumpur 31 Sept-1 okt2010
1 dari jutaan pemuda Indonesia
Budi Hamuddin

