Pages

Monday, April 7, 2008

Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

 
Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

"Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian." ungkap seorang guru di Finlandia.

"Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri," kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia,

"Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah." Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah.

"Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan." sambungnya.


Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha. Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.

Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah!" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

"Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa," kata seorang guru,

"Maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya."

Benar-benar ucapan guru yang bertanggungjawab.


Kuambil dari "Top of the Class" Fergus Bordewich.

How To motivate Your Self


Rendahnya motivasi disebabkan oleh tiga hal yaitu: tidak pede, tidak fokus, dan tidak terarah. Biasanya, ketiganya akan muncul bersamaan dan saling menguatkan.

TIDAK PEDE

Jika Anda sendiri tidak percaya bahwa Anda bisa sukses, maka mencoba pun Anda tak akan melakukannya. Apalagi benar-benar melakukannya.

Jika Anda merasa kurang PeDe, sebabnya adalah karena Anda sepenuhnya berfokus pada apa yang Anda inginkan. Anda melupakan apa-apa yang sudah Anda punya.

Kemudian, pikiran Anda hanya menghasilkan penjelasan tentang mengapa Anda belum juga mendapatkannya.

Hasilnya adalah pikiran negatif.

Akibatnya adalah rasa cemburu dan berbagai pembenaran.

Bersyukurlah!

PEDE SECARA INSTAN

1. Pakailah pakaian yang membuat Anda PeDe. Orang yang paling memikirkan pakaian Anda adalah diri Anda sendiri. Jika Anda merasa tidak terlihat baik, maka itu akan mempengaruhi pembawaaan Anda.

2. Berjalanlah dengan lebih cepat. Berjalanlah dengan enerjik.

3. Perhatikan postur dan bahasa tubuh Anda. Jadilah antusias dan penuh semangat.

4. Dengarkanlah pembicara motivasional. Pembicara motivasional yang terbaik adalah diri Anda sendiri. Berbicaralah di depan cermin.

5. Bersyukurlah. Sediakan waktu khusus untuk itu. Shalat-lah. Berdoalah. Merenunglah.

6. Hargai dan pujilah orang lain.

7. Duduklah di baris depan, kecuali di bioskop atau di kursi VIP.

8. Bicaralah. Bicara yang baik atau diam. Jika itu baik bicaralah, apapun yang Anda rasakan.

9. Biasakan memberi. Bersedekahlah, beramal-lah. Berkontribusilah.

TIDAK FOKUS

Jika Anda tidak tahu persis apa yang Anda inginkan, jangan-jangan Anda memang tidak menginginkannya.

Nilai kembali diri Anda, apakah Anda lebih fokus pada apa yang tidak Anda inginkan atau pada apa yang Anda inginkan?

Saya takut gagal, saya takut miskin, saya takut dilecehkan, saya takut tidak mencapai target, saya takut mengecewakan, dan sebagainya.

Semua itu tidak mendorong Anda untuk bertindak. Takut akan membuat Anda diam di tempat.

Buatlah rencana dan langkah-langkah yang terukur.

Pikiran Anda akan mulai bekerja, sampai Anda tahu apa yang Anda mau.

TIDAK TERARAH

Jika Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, bagaimana mungkin Anda bisa termotivasi untuk melakukannya?

Fokus Anda adalah sasaran akhir. Arah Anda adalah strategi harian. Dengan kejelasan tentang "what next?", maka Anda akan tetap termotivasi untuk melanjutkan perjalanan.

Apakah aktivitas harian Anda mengarah kepada fokus atau tidak? Aktivitas mana yang mendekatkan dan mana yang menjauhkan Anda dari fokus?

Lakukan ini setiap hari:

Satu langkah kecil berdampak jangka pendek, dan
Satu langkah besar berdampak jangka panjang.

NEXT STEP: ACTION HABIT

1. Jangan tunggu sampai segalanya sempurna. Tak akan. Sebab ini dunia, bukan surga.

2. Jadilah pelaku, bukan pemikir. Bertindaklah hari ini. Segala sesuatu lebih berat di kepala daripada di pundak.

3. Ingatlah bahwa sekedar ide, tidak menciptakan sukses. Ia hanya bernilai jika diimplementasikan.

4. Tindakan adalah obat bagi kekhawatiran. Obat yang terbaik. Yang terberat adalah tindakan pertama. Selebihnya adalah bola salju.

5. Paksakan kreatifitas Anda. Jangan tunggu inspirasi. Just do it.

6. Hiduplah di hari ini. Hanya hari ini yang bisa Anda pengaruhi.

7. Get to the point. Jangan terlalu lama membaca tips ini. Lakukan sesuatu segera setelah tanda seru berikut ini!

Sumber: Pick The Brain

Menjadi Positive Thinker


Sesuai istilahnya, “positive thinker” adalah orang yang berpikir positif. Berpikir positif adalah pilihan terbaik bagi setiap orang dalam setiap situasi. Berpikir positif itu “husnu dzon”. Berpikir positif adalah berpihak pada apapun yang sifatnya positif dan lebih baik. Berpikir positif selalu menghasilkan “output” yang positif. Sukses dan berbahagia adalah hal yang positif. Maka jika Anda mau sukses dan bahagia, berpikirlah positif.

“Berani dan Mandiri”

Anda adalah “positive thinker” jika Anda lebih memilih menikmati hidup ketimbang mengeluhkan hidup. Jika Anda mau dan berani menghadapi kenyataan hidup.

Anda bukanlah “positive thinker” jika Anda hanya pandai menyembunyikan emosi. Anda adalah “positive thinker” jika Anda menghadapinya, dan Anda pandai menanganinya. Jika Anda mau menghadapi emosi negatif, merasakan, dan belajar darinya. Jika Anda mau bertanggung jawab atasnya, dan tidak menyalahkan apa dan siapa pun di luar diri Anda.

Anda adalah “positive thinker” jika Anda berani dan mandiri.

“Memahami Emosi”

Anda adalah “positive thinker” jika Anda menghadapi emosi negatif dengan kemauan untuk belajar. Jika Anda memahami, bahwa emosi adalah sinyal yang menjadi salah satu panduan dalam menentukan perilaku.

Anda adalah “positive thinker” jika Anda bisa melihat dan merasakan bahwa emosi adalah pesan. Jika Anda merasa nyaman, Anda tahu bahwa Anda telah mengerjakan hal yang benar, dan Anda meneruskan atau mengulanginya. Jika Anda merasa tidak nyaman, Anda tahu ada sesuatu yang salah. Anda tahu bahwa Anda harus berhenti, melakukan analisis terhadap perilaku diri, belajar dari kesalahan, merubah strategi, dan kemudian melanjutkan hidup Anda.

Anda adalah “positive thinker” jika Anda mau belajar memahami emosi Anda.

“Action Oriented”

Anda adalah “positive thinker” jika Anda berorientasi pada tindakan. Jika Anda melihat kekurangan, Anda bertindak untuk mengisinya. Jika Anda menghadapi hambatan, Anda bertindak untuk menyingkirkannya. Jika Anda merasakan ancaman, Anda bertindak untuk mengantisipasinya. Jika Anda melihat peluang, Anda bertindak untuk mengambilnya. Jika Anda merasa berkelebihan, Anda bertindak untuk mempertahankan dan berbagi dengan orang lain.

Anda adalah “positive thinker” jika tidak terpaku dan berhenti hanya pada retorika “"Saya bisa!" "Saya bisa!" "Saya bisa!"“

Anda adalah “positive thinker” jika Anda melanjutkannya dengan berkata: “"Sikat bleh...!"“

“Bersyukur dan Bersabar”

Anda adalah “positive thinker” jika Anda membiasakan diri untuk yang bersyukur di kala senang dan bersabar di kala susah.

“Jebakan Negative Thinking”

“Positive thinking” adalah sesuatu yang jelas lebih baik. Ia lebih identik dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Mengapakah masih banyak orang yang terjebak pada “negative thinking “?

Kebiasaan berpikir negatif yang dilakukan dan terjadi bertahun-tahun, bisa menjadi jalan hidup. Saat berpikir negatif telah menjadi jalan hidup, maka itulah jalan hidup yang normal bagi” negative thinker” . Dengan jalan hidup yang dianggap normal itu, mereka merasa bahwa apa yang perlu diubah adalah”dunia “, bukan “diri” mereka sendiri.

Bukankah jauh lebih mudah mengubah diri sendiri dari pada dunia dan seisinya?

Memahami kenyataan itu dengan lebih baik, akan menaikkan kecerdasan emosi Anda, kecerdasan spiritual Anda, dan sekaligus kecerdasan intelektual Anda. Itu artinya, Anda akan menaikkan kecerdasan individual Anda, kecerdasan sosial Anda, dan bahkan kecerdasan finansial Anda.

Bukankah itu semua yang akan membuat Anda sukses dan berbahagia?

Oleh sebab itu, waspadailah jebakan “negative thinking” yang akan membuat hidup Anda menjadi sengsara dan lebih sulit dari semestinya. Kebahagiaan dan sukses Anda ada di depan mata, dan untuk mendapatkannya Anda tidak perlu merubah dunia. Ubahlah diri Anda.

Jika Anda tidak ingin memilih jalan hidup sebagai “negative thinker”, tips dari Chuck Gallozzi berikut ini bisa Anda pelajari dan pahami.

“Kesalahan atau Kegagalan”

Berhentilah untuk terus mengatakan:

“"Ya sudahlah, Saya memang begini."
"Saya memang loser."
"Gua emang salah mulu!"
"Saya ternyata bodoh."
"Gagal maning gagal maning..."“

(Itu sebabnya si Ucil selalu berhasil)

Ketahuilah bahwa Anda bukanlah kegagalan itu sendiri, ketahuilah bahwa Anda bukan kebodohan itu sendiri. Anda tidak serta merta menjadi gagal atau bodoh hanya karena rencana yang meleset. Anda hanya mengalami “"temporary defeat" “ alias kekalahan sementara. Semua kegagalan dan kesalahan adalah bagian dari “training” kehidupan Anda. Salah dan gagal adalah syarat mutlak untuk mencapai sukses dan bahagia Anda.

“Amarah”

Lepaskan amarah Anda. Ingat, bukan lampiaskan. Amarah akan menyakiti hati orang lain. Lebih dari itu, amarah akan menyakiti hati Anda sendiri. Lepaskanlah amarah Anda dan obati luka hati dengan sikap memaafkan.

“Semangat”

Untuk apapun yang Anda merasa "harus", "mesti", atau "wajib" melakukannya, ubahlah frasa di kepala Anda menjadi lebih positif. Ubahlah "Saya harus" menjadi "Saya mau..., sebab.... Jadi..."

“"Saya mestinya menurunkan berat badan"“

gantilah kalimat itu menjadi

“"Saya mau menurunkan berat badan, sebab Saya akan merasa lebih baik, terlihat lebih baik, panjang umur, dan lebih PD. Jadi, Saya bergabung ke fitness club dan memperbaiki pola makan."

“Bisa Atau Tidak Bisa”

Berhentilah berpikir "Saya tidak bisa" sebab itu cuma jalan buntu. Dengan kalimat itu Anda tidak akan kemana-mana. Katakanlah "Saya akan..., jika..."

“"Saya tidak bisa mengangkat barbel seberat itu"“

gantilah kalimat itu menjadi

“"Saya akan bisa mengangkatnya dalam dua minggu, jika Saya menambah beban Saya setengah kilo setiap hari." “

“Kendali Emosi”

Satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas emosi adalah diri Anda sendiri. Orang lain tidak akan menciptakan emosi apa pun pada diri Anda kecuali Anda membiarkannya.

Orang lain tidak dapat membuat Anda kecewa, frustrasi, atau bersedih hati, kecuali Anda membolehkannya. Jika itu terjadi, maka itu terjadi karena Anda membiarkannya. Terjadi atau tidak terjadi, adalah pilihan Anda sendiri.

Jika Anda bertemu dengan orang yang membuat “mood” Anda rusak, berhentilah untuk bereaksi secara spontan sehingga Anda marah atau kecewa. Berdiam dirilah sebentar, pikirkanlah apa yang membuat orang itu merasa tidak nyaman sehingga ia merasa perlu memprovokasi Anda.

Ketahuilah, bahwa orang yang demikian sebenarnya sedang memerlukan restorasi, pembaharuan, revitalisasi, “recharge”, atau bahkan nasehat. Anda bisa berperan dan menyumbangkan sesuatu baginya. Itulah yang membuat Anda merasa berguna.

“Sensitifitas”

Jangan terlalu sensi, jadilah kuat. Berhentilah menginterpretasikan pandangan dan bicara orang sebagai serangan. Ingatlah bahwa mereka hanya memandang dan berbicara. Itu saja. Orang yang kasar dan keras kepada Anda sekalipun, belum tentu tidak menyukai Anda. Bisa jadi, mereka justru sayang dan cinta kepada Anda.

Apa yang sering terjadi adalah seperti contoh berikut ini.

Saat Anda merasakan boss Anda bersikap buruk kepada Anda, bukanlah kejadian itu yang membuat Anda merasa buruk. Kejadian itu hanya memicu pengalaman masa lalu Anda, misalnya saat Anda kecil, ketika Anda melakukan sesuatu yang kemudian membuat ayah Anda marah. Itulah yang membuat Anda merasa buruk.
Ayah Anda, jelas sayang dan cinta kepada Anda.

Oleh sebab itu, hiduplah di masa sekarang dan bukan masa lalu. Anda bukan anak-anak, melainkan manusia yang telah dewasa. Pahamilah bahwa orang itu boss Anda, dan bukan ayah Anda.

Berpikirlah positif.

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.

Tq to: Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.