Pages

Sunday, November 16, 2008

SMS Siapa Yach....?



June 13, 2008

Kelap-kelip lampu hpku menyala, nada getar yang sengaja kupilih meminggirkan untuk sementara ring tone kesukanku pagi itu dengan tujuan aku bisa tidur tanpa adanya gangguan sampai menjelang siang ini. hal itu terpaksa kulakukan setelah semalaman begadang menonton perhelatan sepakbola Euro 2008.

Namun apa nyana dengan sedikit malas kuraih telp itu dan kulihat ada sms masuk menggunakan nomor indonesia yang dimulai dgn kode negara +62 .. lalu diikuti beberapa angka-cantik. Aku mulai berpikir siapa yach ??? lalu kubuka sms inbox dan kubaca;

Ass.apa kbr Mr.Budz?
knp ga perNH kasih kbar?
aHad cLas 3 pErpishan..
apakah tiada wkt tu’ qt brtemu stlh hmpir 2 thn psh?
Frm.. salsabilah

Bergetar hatiku, ada perasaan rindu yang menjalar kesukmaku seketika sms itu terbaca semuanya, Salsabila nama tersebut membawaku kembali memasuki lorong waktu menembus sel-sel memory yang telah tersimpan di rak kenangan. Salsabila nama yang cantik secantik kenangan yang tersimpan dan menggelitik untuk kembali terangkat ke atas permukaan katulistiwa alam sadarku, memoir serta nostalgia seakan muncul berurutan didalam fikiranku mengingatkan kenangan-kenangan semasa di Batam, nama itu pula yang kembali mengingatkanku sebagai apa sebelum menjadi apa di kuala Lumpur ini.

Batam dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala tantangan dan cabaranya dengan segala eksotisme kehidupan didalamnya, masih menjadi magnet bagi sebagian penduduk Indonesia bahkan dunia internasional untuk datang dan mewujudkan impian, cita-cita bahkan ambisi dipulau yang secara geografis mirip kalajengking itu.

Di pulau yang merupakan bagian dari provisi kepulauan Riau, yang berbatasan dengan Singapura dan tak begitu jauh dari Johor Bahru, Malaysia, dipulau itulah aku menimba pengalaman yang tak akan pernah akan terlupakan sampai kapanpun. Dan disitulah pertama kalinya aku berkenalan dengan Salsabilah si pengirim sms yang membuat tidurku terpotong pagi ini.

Batam yang sebagian penduduknya sering menyebutnya dengan sebagai singkatan dari “ Bila Anda Tiba Anda Menyesal” tapi “Bila Anda Tabah Anda Menang” dari pulau yang bukan apa-apa di make up menjadi pulau metropolis karena posisinya yang strategis dilihat dari berbagai sektor. Membuatnya menarik perhatian banyak pihak baik sebagai investor atau kalangan umum yang datang karena “gula-gula” yang ditawarkan bermerek “lapangan kerja”

Karena alasan itulah aku datang dengan membawa bekal seadanya dan segulung ijazah S1 keluaran Fakultas Oemar Bakri Universitas Muhammadiyah Makassar dan seabrek sertifikat pelatihan kulangkah kakiku dengan mantap menuju pulau yang menawarkan janji masa depan lebih baik tersebut. Meninggalkan dibelakang tempat kelahiranku Makassar beserta keluarga, kawan, sahabat, hati dan segunung cerita manis dan pahit semenjak kecilku yang tak pernah kutinggalkan lama.

Merantau adalah kalimat yang begitu sederhana namun begitu luas makna yang terkandung didalamnya, bagi sebagian penduduk Indonesia ada beberapa suku yang sangat identik dengan kalimat tersebut Bugis-Makassar adalah salah satunya, sebagai seorang anak yang terlahir di Makssar entah berapa banyak dalil petuah ataupun kalimat pilosopis tentang positifitas dari sifat merantau tersebut terdoktrin dalam benak anak-anak Bugis-Makassar seperti aku. Dari sejak masa lampau yang dapat membuat mereka berani membelah lautan menemukan dunia-dunia baru namun tak sempat terekspos The Explorer, Discovery channel atau tercatat dalam sejarah dunia barat, yang mana jauh sebelum Australia didarati Kapal Endeavour berbendera Inggris, pelaut2 Bugis-Makassar sudah menjadikan tempat menjemur tripang, kerang atupun hasil tangkapan laut dan berkawan dengan suku Aborigin. Dan jauh sebelum kerajaan kerajaan di Nusantara memiliki aramada angkatan laut yang berani mengarungi lautan luas, Kapal Phinisi buatan pelaut-pelaut Bugis Makassar sudah membuang jangkar di Madagaskar. Yang menjadikan design kapal Phinisi tersebut menjadi trade mark Indonesia dalam dunia bahari.

Dipulau yang menawarkan begitu banyak eksotisme dan entertainment ala kota metropolis ternyata masih terdapat sumbu-sumbu religious yang setia menjaga dan mengawal moralitas peradaban bernama pondok pesantren. Disalah satu pondok pesantren yang cukup mendapatkan tempat di hati penduduk Batam adalah Hidayatullah, di pondok ini merupakan cabang yang berpusat di Gunung Tembak Kalimantan. Dari tempat itulah para santri-santri Hidayatullah di godok dari segi keilmuan, akhlak serta militansinya lalu di”tembak”kan ke segenap pelosok negeri yang berbendera Merah Putih agar dapat ikut mengawal moralitas Bangsa ini.

Hidayatullah Batam adalah salah satu dari sekian banyak cabang yang dapat berdiri hasil dari penembakan santri-santri militan dan amanah dari gunung Tembak tersebut. Saya tak cukup beruntung untuk bisa jadi salah satu santri yang di tembakkan dari gunung yang asal muasalnya tandus tersebut namun kini mendapatkan penghargaan kalpataru karena telah berubah menjadi daerah yang berkelas. Dulu sempat saya mempertanyakan hal tersebut kepada mereka …kenapa? Jawaban mereka singkat, disiplin dan Istiqomah dalam beribadah…. Subhanallah.. terbukti lagi satu Dalil yang mengatakan bahwa dimana-mana tempat yang mana masih ada hambaKu bersujud maka akan kusuburkan dengan mata air yang memancar….

Namun saya cukup beruntung dapat berkenalan dan mengambil banyak pelajaran dari salah satu santri yang ditembakkan dari gunung tersebut yakni Ust. Jamal yang merupakan pimpinan pondok Hidayatullah Batam semasa saya disana. Sosok agamawan yang tetap humoris, bervisi besar, supel, pandai olahraga apapun. Sosok yang jarang dapat kita temui dalam figur ujung tombak dakwah di tanah air. Dan dari Olah raga sepak bolalah saya pertama kali berkenalan dengan beliau, ketika itu saya masih mengajar di sebuah pondok pesantren di daerah Dapur.12 Batu Aji yang juga tidak kalah hebatnya dengan pondok tersebut. Pondok pesantren An-Ni’mah namanya pondok yang sangat “menantang” itu jika saya menggambarkanya dalam sebuah kata, bagaimana tidak pondok yang terletak didalam hutan didaerah Dapur 12 menjadikanya terkucil dari peradaban yang penuh eksotisme ala Batam. Membuat siapapun yang menjadikan orang-orang yang bertahan didalamnya adalah orang2 yang mampu menaklukkan tantangan.

Suka-duka semasa dibatam sebagian besar justru terjadi di pondok yang terpencil ini. bagaimana perjuangan untuk sekedar survive dan eksis serta proses dalam mencari jati diriku yang sampai “mungkin” sampai sekarang pun belum bisa ku patronisasikan bahwa aku adalah sosok yang seperti apa, belum lagi rasa sesal jika timbul pertanyaan “mengapa aku dulu meninggalkan mereka pada saat mereka membutuhkan aku…??” namun yang membuatku cepat tersadar kembali adalah kalimat “semua ada hikmah disebaliknya” dan suatu saat akan kutuliskan dalam bahagian yang lain.

Kembali ke Zalsabilah si pemutus tidurku pagi ini, awal perkenalan dimulai ketika penerimaan siswa baru untuk angkatan pertama SMPIT Luqmanul Hakim PP Hidayatullah Batam. Sebenarnya sudah ada angkatan sebelumnya sekitar beberapa orang anak namun belum bisa diakui sebagai kelas ataupun angkatan karena lebih kurang sebagai try out SMPIT tersebut yach secara de facto boleh namun de jure belum lagi. Dikalangan para guru, angkatan kali inilah sebenarnya angkatan pertama sekolah tersebut, dan pagi itulah cerita kami bermula.

Manis dan anggun kesan yang tertangkap jika kita menyebut nama Zalsabila, itulah mungkin alasan mengapa kami memilih nama itu untuk disematkan kepada kelas murid-murid wanita pertama disekolah itu. Zalsabilah adalah nama yang disematkan kawan-kawan sesama pengajar di sekolah itu kalaupun ditelusuri mungkin yang pertama kali memberikan nama adalah pak Siddiq kawan yang mendapat amanah sebagai sebagai salah satu wakil kepala sekolah di SMPIT Hidayatullah Batam.

Zalsabilah nama kelas dengan 8 orang anak murid wanita pertama sebagai penghuni di sekolah itu, anak-anak yang akan tercatat dalam sejarah perjalanan sekolah itu sebagai 8 murid wanita pertama disekolah itu. anak-anak yang baik dengan segala kelebihan dan keunikannya;
Yulia dengan semangatnya yg luar biasa
Ningsih dengan kecerdasanya
Widy dengan kedewasaanya
Dian dengan kelucuanya
Azura dengan keceriaanya
Imas dengan kejelitaanya
Jannah dgn kepolosanya
Nurul dengan keluguanya

Itulah mereka murid-murid kelas Zalsabilah, kelas yang menyimpan banyak kenangan buatku semasa dibatam, cerita manis yang tetap akan mendapatkan tempat yang khas didalam memoriku. Dan SMS pagi itulah yang membuatku teringat kembali akan mereka dan bernostalgia tentang masa dimana aku bersama mereka, teringat dengan jelas dalam fikiranku kembali tentang mereka

Dengan jelas terbayang kembali ketika hanya untuk mengajarkan mereka membaca puisi aku harus membawa mereka ke bukit kebelakang sekolah, ketika untuk mebuat mereka mengahfal rumus2 bahasa inggris kusekap mereka didalam masjid atau sekedar Outbound di dalam hutan hanya untuk bisa menambah kepercayaan diri mereka dan mengenal ciptaan yang maha kuasa, serta masih banyak cerita mengenai kebersamaan kami. Ruang kelas dan status coba kuketepikan ketika bersama mereka, itulah nampaknya yang membuat mereka terkesan dan masih mengingatku…

Selain Zalsabilah nama yang sering kami sematkan kepada kedelapan anak-anak itu adalah The Angels nama yang sama dengan nama majalah dinding disekolah itu, dimana merekalah semua reporter dan redaksi mading yang menjadi ekskul andalan disekolah itu. 8 wartawan cilik yang senantiasa semangat dalam mencari dan menyebarkan berita oleh dan dari persekitaran mereka sendiri dibawah bimbingan kami. The Angels adalah bukti produktivitas dan symbol kekompakan mereka 8 malaikat cilik yang manis dan unik… semoga kalian bisa berlari mengejar impian dan cita-cita kalian… A winner never stops, so don’t stop study because you are a winners…!!!

1 comments:

Anonymous said...

halluu...
dapet link dr pak haji..??

dari pak subhan afifi kah..?

salam kenal ya..:)